REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON – Wajah agama Kristen yang diyakini sebagian besar penganutnya penuh kasih sayang berubah drastis di bawah administrasi Presiden AS Donald Trump. Kelompok Kristen fundamentalis dan Kristen Injili belakangan jadi pendukung utama agresi militer AS, juga sekutunya Israel.
Hubungan erat itu tergambar nyata saat Trump mengundang sekelompok pemimpin Kristen ke Ruang Oval, Gedung Putih pada Kamis pekan lalu. Terlihat mereka berkumpul di sekeliling Trump dan meletakkan tangan kepadanya dalam doa ketika konflik yang melibatkan Iran terus meningkat.
Video yang dibagikan di media sosial menunjukkan presiden duduk di belakang meja kerjanya sementara beberapa pendeta dan pemimpin evangelis berdiri di sekelilingnya, meletakkan tangan mereka di bahunya dan berdoa memohon bimbingan dan perlindungan.
Di antara mereka yang hadir adalah penasihat spiritual Trump, Pastor Paula White, yang juga memimpin Kantor Kepercayaan Gedung Putih. Pendeta megachurch California Greg Laurie juga terlihat di ruangan itu, bersama pendeta Jentezen Franklin dan pemimpin evangelis Johnnie Moore.
Kristen Protestan Evangelis alias Injili sejak lama jadi fenomena khas AS. Tak seperti awamnya pendeta Kristen yang hidup sederhana, pengkhotbah Injili ini kebanyakan hidup mewah bergantung pada donasi jemaat. Di AS, mereka meraih banyak jemaat dari saluran televisi khusus dan gereja-gereja raksasa.
Di Amerika saat ini, ajaran denominasi Kristen ini berpusat pada hari akhir dan kedatangan Yesus Kristus. Dukungan mereka untuk Zionisme, juga untuk memerangi umat Islam terkait dengan eskatologi tersebut.
Pada pemilihan presiden AS 2024, sedikitnya 80 persen penganut Kristen Evangelis memilih Trump. Angka itu menyumbang sekitar 26 persen suara untuk kemenangan Trump, merujuk exit poll Pew Research Center.
Survei Pew Research Center pada 2025 lalu menunjukkan, sekitar tiga bulan setelah masa jabatan kedua Trump, kaum Protestan evangelis kulit putih terus menjadi salah satu pendukung terkuatnya.
Sebanyak 72 persen menyetujui cara Trump saat ini menangani pekerjaannya sebagai presiden.Kemudian 69 persen menilai etika pejabat tinggi pemerintahan Trump sangat baik atau baik. Sedangkan 57 persen mengatakan mereka lebih memercayai apa yang dikatakan Trump dibandingkan presiden sebelumnya.
Rekaman doa bersama di Gedung Putih, adalah bukti terkini bahwa ekstremisme Kristen, kian terlihat bukan lagi sebuah gerakan pinggiran. ia telah berpindah dari bangku gereja ke Pentagon, Gedung Putih, dan gedung Kongres.
.png)
3 hours ago
2
















































