Aktivis Armada Global Sumud Flotilla, yang ditahan oleh Israel di perairan internasional, tiba di Bandara Istanbul, Turki, Kamis (21/5/2026). Tiga pesawat Turkish Airlines (THY) yang membawa para aktivis dari armada bantuan kemanusiaan Global Sumud Flotilla, termasuk 9 Warga Negara Indonesia, yang ditahan awal pekan ini oleh Israel di perairan internasional, tiba di Istanbul.
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Laporan investigasi The New York Times mendokumentasikan dugaan kekerasan fisik dan seksual secara masif terhadap para aktivis internasional yang ditangkap pasukan Israel. Mereka ditangkap setelah berusaha menembus blokade Israel di Jalur Gaza pada Mei lalu.
Investigasi yang bermula dari wawancara terhadap 24 peserta armada (flotilla) serta rekam medis dari Australia, Prancis, Italia, dan Turki tersebut menemukan pengakuan yang konsisten mengenai penyiksaan. Kekerasan disebut dimulai sejak berada di atas kapal Israel dan berlanjut setelah para tahanan dibawa ke wilayah Israel.
Para aktivis tersebut berada di antara lebih dari 400 orang yang bepergian menggunakan sekitar 50 kapal sebagai bagian dari Global Sumud Flotilla. Armada kemanusiaan ini berangkat dari Turki pada 14 Mei dengan membawa bantuan makanan dan pasokan medis untuk Gaza.
Pasukan Angkatan Laut Israel mulai mencegat konvoi tersebut pada 18 Mei di lokasi yang berjarak lebih dari 100 mil dari Gaza, menurut keterangan para aktivis dan data pelacakan yang ditinjau surat kabar tersebut. Operasi pencegatan itu dilaporkan berlangsung selama lebih dari 30 jam.
Di antara mereka yang ditahan adalah pelaut asal Belgia, Arno Meyns (34 tahun). Ia menceritakan bahwa pasukan Israel memindahkannya ke kapal militer sebelum memaksanya masuk ke dalam kontainer pengiriman yang gelap dalam kondisi telanjang kaki dan basah kuyup oleh air laut.
"Merek langsung menendang saya. Situasinya gelap. Mereka juga memukul saya. Sempat berhenti sejenak, lalu mereka memukuli saya lagi,"kata Meyns kepada The Times.
Anggota parlemen oposisi Italia, Dario Carotenuto, menggambarkan situasi pencegatan yang serupa. "Setidaknya ada dua atau tiga tentara yang mengarahkan senjata ke arah kami," ujar dia.
Carotenuto mengatakan pasukan Israel menghancurkan jendela plastik di kapalnya dengan peluru karet sebelum memerintahkan para aktivis duduk di geladak dengan tangan terangkat. Ketika ia memperkenalkan diri sebagai anggota parlemen dan menunjukkan paspor diplomatiknya, personel Israel hanya menjawab: "Diam!"
Militer Israel bergeming bahwa pencegatan armada tersebut merupakan penegakan hukum yang sah atas blokade maritimnya di Gaza. Sebaliknya, para aktivis menggambarkan operasi militer tersebut sebagai aksi pembajakan laut.
.png)
4 hours ago
2













































