Pekerja sedang membaca alquran di Masjid Assalafiyah, Jatinegara Kaum, Jakarta, Rabu (23/4).
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Di bulan suci Ramadhan kali ini, umat Islam di berbagai penjuru dunia akan kembali memperingati peristiwa turunnya Alquran atau Nuzulul Quran. Mayoritas umat Islam Indonesia akan memperingati Nuzulul Qur'an pada pekan ini.
Sebelumnya, Kementerian Agama RI telah menetapkan awal Ramadhan pada 19 Februari 2026, sehingga peringatan Nuzulul Qur'an akan berlangsung pada Sabtu (7/3/2026) besok. Sementara, malam peringatan bisa dimulai pada Jumat (6/3/2026) malam ini.
Peristiwa Nuzulul Qur'an ini bukan sekadar catatan sejarah dalam perjalanan dakwah Islam, melainkan juga menjadi pengingat akan mukjizat terbesar yang diberikan Allah kepada Nabi Muhammad SAW, yakni Alquran.
Nuzulul Qur’an merujuk pada peristiwa turunnya wahyu pertama kepada Nabi Muhammad SAW melalui malaikat Jibril saat beliau sedang beribadah dan berkhalwat di Gua Hira, sebuah tempat sunyi di sekitar Makkah. Peristiwa itu terjadi sekitar tahun 610 Masehi, ketika Nabi SAW berusia 40 tahun.
Dalam peristiwa tersebut, malaikat Jibril menyampaikan wahyu pertama berupa lima ayat awal dari Surah Al-Alaq. Wahyu itu diawali dengan kata “Iqra”, yang berarti “bacalah!”.
Perintah membaca itu menjadi simbol penting dalam Islam, bahwa agama ini dibangun di atas ilmu pengetahuan, refleksi, dan kesadaran intelektual. Sejak saat itu, wahyu Alquran terus turun secara bertahap selama kurang lebih 23 tahun.
Salah satu mukjizat terbesar Alquran adalah keindahan dan kekuatan bahasanya. Pada masa turunnya Alquran, masyarakat Arab dikenal sebagai bangsa yang memiliki tradisi sastra yang sangat tinggi. Mereka gemar berpuisi dan mengagungkan para penyair.
Namun ketika Alquran diturunkan, para ahli bahasa Arab saat itu tidak mampu menandingi keindahan susunan kalimat dan kedalaman maknanya.
.png)
11 hours ago
5
















































