Nasib SDF, Dulu Dielu-elukan, kini Dicampakkan Amerika

3 hours ago 1

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Babak baru konflik di Suriah sampai kepada momentum bersejarah yang menunjukkan supremasi Al-Sharaa sebagai pemimpin negara tersebut. Dia adalah mastermind di balik penggulingan Assad bersama gabungan kekuatan sipil dan militer.

Selama sembilan hari beroperasi, Al Sharaa berhasil merebut wilayah demi wilayah Syuriah hingga akhirnya sampai ke Damaskus. Presiden Bashar Assad yang semula sangat tak tersentuh dibuatnya tunggang langgang kabur menuju Rusia untuk menyelamatkan aset dan dirinya bersama keluarga.

Pengalaman bertempur selama 9 hari ini menjadi modal utama Al Sharaa untuk lebih kencang melawan pemberontakan dalam negeri. Kali ini menghadapi kelompok Syrian Democratic Forces (SDF). Tidak pakai lama dan tidak sampai berlarut-larut. Hanya 2 hari, pasukan yang dulu disayang Paman Sam itu dibuatnya bertekuk lutut minta ampun untuk berdamai dan mengakui kedaulatan negara Suriah yang dipimpin Al Sharaa.

Ketika Jadi Antek Kesayangan Amerika

SDF pernah menjadi mitra utama Amerika Serikat dalam memerangi ISIS, kini menghadapi pergeseran dalam hubungan tersebut. Setelah bertahun-tahun berperan sebagai kekuatan darat yang penting bagi AS, masa depan kemitraan ini menjadi subjek perdebatan.

Dibentuk pada Oktober 2015 di tengah perang saudara Suriah, SDF berfungsi sebagai aliansi militer yang inklusif, menggabungkan kelompok-kelompok etnis seperti Kurdi, Arab, Asyur, dan Turkmen. Tujuan utamanya adalah untuk memerangi kekhalifahan ISIS.

Komponen dominan dalam SDF adalah YPG (Unit Perlindungan Rakyat), milisi Kurdi yang telah menunjukkan kemampuan tempur. Amerika Serikat melihat potensi dalam YPG, dan untuk alasan politik, mendorong pembentukan SDF agar aliansi ini tampak lebih representatif bagi masyarakat Suriah.

Amerika Serikat, melalui koalisi internasional, memberikan dukungan signifikan kepada SDF, termasuk persenjataan, pelatihan, dukungan udara, dan penempatan pasukan khusus. Kemitraan ini terbukti efektif dalam kampanye militer di Suriah Timur, dengan SDF bertindak sebagai "pasukan darat" yang berkoordinasi dengan strategi udara AS.

Keberhasilan SDF mencapai puncaknya pada tahun 2017 dengan merebut Raqqa, yang dianggap sebagai ibu kota ISIS, dan pada Maret 2019 dengan merebut Baghouz, benteng terakhir ISIS. Dalam perjuangan ini, SDF kehilangan lebih dari 11.000 pasukannya.

Read Entire Article
IDX | INEWS | SINDO | Okezone |