Menurut Ekonom, Ini Alasan yang Membuat Harga Emas Meroket

4 hours ago 2

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Lonjakan harga emas dunia yang kini turut mendorong harga emas domestik melampaui Rp3 juta per gram dipengaruhi kombinasi faktor geopolitik global dan kekhawatiran ekonomi masyarakat. Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Mohammad Faisal menilai, kebijakan Presiden Amerika Serikat Donald Trump menjadi salah satu pemicu utama kenaikan harga logam mulia.

Faisal menjelaskan, kenaikan harga emas pada dasarnya merupakan fenomena yang lazim terjadi seiring meningkatnya permintaan dari individu, korporasi, hingga lembaga keuangan.

“Ada faktor pendorong yang rutin atau normal terjadi dari waktu ke waktu. Bisa karena pembelian oleh individu ataupun perusahaan yang terus meningkat,” ujar Faisal dalam keterangannya di Jakarta, Jumat (30/1/2026).

Ia menyebut emas selama ini digunakan sebagai instrumen diversifikasi investasi, baik oleh pelaku individu maupun institusi. Selain itu, bank sentral di berbagai negara juga meningkatkan kepemilikan emas sebagai bagian dari cadangan devisa.

“Sudah banyak juga yang membeli emas dibandingkan dolar AS. Ini merupakan upaya bank-bank sentral di luar Amerika Serikat untuk menghindari ketergantungan terhadap dolar AS,” ucap Faisal.

Menurut Faisal, faktor-faktor tersebut secara reguler mendorong permintaan emas. Namun, tren harga emas yang sebelumnya meningkat secara bertahap berubah menjadi lonjakan tajam sejak 2024, seiring meningkatnya ketidakpastian ekonomi global dan ketegangan geopolitik.

Ia menambahkan, kebijakan tarif resiprokal yang ditempuh pemerintahan Trump turut memperburuk sentimen pasar dan memanaskan kondisi ekonomi global, sehingga mendorong pergerakan harga emas semakin agresif.

“Akselerasi harga emas itu mulai kelihatan sebelum Agustus 2025. Nah, lebih cepat lagi peningkatannya setelah Agustus 2025 dan di awal tahun ini,” kata Faisal.

Faisal menilai eskalasi geopolitik yang dipicu kebijakan luar negeri Trump terhadap sejumlah kawasan, seperti Venezuela, Greenland, dan Iran, turut memperkuat lonjakan harga emas pada 2026.

“Akhirnya akselerasinya lebih tajam lagi, melonjak di 2026 begitu cepatnya. Ketika begitu cepat kenaikannya, ini kemudian didorong lagi dengan permintaan tambahan yang disebabkan karena kekhawatiran,” ujarnya.

Di dalam negeri, Faisal menyebut ekspektasi inflasi dan kekhawatiran terhadap kondisi ekonomi juga memicu dorongan psikologis masyarakat untuk membeli emas, meskipun harganya sudah berada di level tinggi.

“Tentu saja kenaikan harga emas itu artinya dalam konteks ini sejalan dengan meningkatnya kerentanan ekonomi terhadap krisis,” kata Faisal.

Read Entire Article
IDX | INEWS | SINDO | Okezone |