Mentan: Kerugian Rakyat Akibat Mafia Beras Capai Rp 100 Triliun

5 hours ago 6

REPUBLIKA.CO.ID, SEMARANG -- Menteri Pertanian Amran Sulaiman mengatakan kerugian rakyat Indonesia akibat praktik culas mafia beras mencapai Rp 100 triliun. Menurut dia, hingga kini sudah ada sedikitnya 38 tersangka dalam penanganan kasus tersebut.

Saat diwawancarai seusai menghadiri acara di Universitas Diponegoro, Amran kembali dikonfirmasi mengenai pernyataan Presiden yang menyebut adanya perusahaan penggilingan padi yang meraup keuntungan hingga Rp 2 triliun. Ia meluruskan bahwa nilai tersebut bukan merupakan keuntungan dari praktik bisnis yang bersih, melainkan hasil penipuan. Pelakunya, kata Amran, merupakan sebuah grup perusahaan besar.

Ia mencontohkan, dalam menjalankan bisnisnya, grup perusahaan tersebut menjual beras yang seharusnya berharga Rp 8.000 per kilogram menjadi Rp 17 ribu per kilogram.

"Seharusnya harganya Rp 8.000 tapi dijual Rp 17 ribu, dan itu ditulis di situ premium. Menurut kamu benar apa salah? Ini jangan pengalihan isu. Substansinya adalah total kerugian bukan itu Rp 2 triliun. Semuanya adalah Rp 100 triliun kerugian rakyat, mengambil hak rakyat," ucap Amran, Kamis (6/8/2026).

"Jadi itu maksudnya Bapak Presiden. Paham substansinya? Jadi nilai yang Rp 2 triliun itu satu perusahaan besar grupnya. Karena kapasitas gilingnya 1.000 sampai 2.000 ton per hari," tambah Amran.

Amran mengeklaim saat ini sudah ada 38 tersangka dalam kasus dugaan penipuan penjualan beras tersebut.

"Sekarang tersangkanya sudah 38," katanya.

Kendati demikian, Amran tidak membocorkan nama grup perusahaan yang disebutnya melakukan praktik culas dalam penjualan beras.

"Grup, tapi kan enggak etis kita tunjuk karena sudah proses hukum," ujarnya.

Amran juga menyoroti praktik penjualan beras dengan harga yang jauh di atas semestinya.

"Saya sebut saja beras fortifikasi, itu harusnya harganya Rp 12-Rp 13 ribu, tapi dijual Rp 42 ribu, selisih Rp 30 ribu. Gila enggak? Ini (seperti) dia bilang emas 24 karat, tapi kuningan," ucapnya.

"Menurut Pak Dekan bagaimana ini negara ini? Mafia tidak mau berhenti bekerja," tambah Amran kepada seorang dekan fakultas Universitas Diponegoro yang mendampinginya saat wawancara dengan media.

Read Entire Article
IDX | INEWS | SINDO | Okezone |