Fitri Sekar
Info Terkini | 2026-08-26 10:37:31
Malaysia mendorong sinergi dokter Asia Tenggara, termasuk Indonesia, dalam mengadopsi teknologi bedah robotik presisi tinggi. [Istimewa]
MALAYSIA - Pemerintah dan institusi kesehatan Malaysia secara aktif mendorong penguatan kolaborasi antar-tenaga medis di kawasan Asia Tenggara melalui penerapan teknologi perbedahan berbasis robotik. Komitmen tersebut diwujudkan dalam gelaran Surgical Symposium on Advanced Robotic Technology (SSMART 2026) yang mengumpulkan lebih dari 25 dokter asal Indonesia beserta perwakilan negara tetangga.
Ajang ilmiah tahunan ini diposisikan sebagai platform regional untuk mentransfer pengetahuan, membagikan pengalaman klinis, serta memperluas jaring kemitraan lintas negara. Melalui forum ini, para praktisi medis diajak mendalami efisiensi bedah minimal invasif guna menjawab kompleksitas kebutuhan pelayanan pasien masa depan.
Peresmian simposium dilakukan langsung oleh YB Jason H’ng Mooi Lye selaku Penang State Executive Councillor for Local Government and Town & Country Planning. Acara ini mengusung tema “Collaborative Intelligence: Humans & Robots Together” yang menyoroti perpaduan antara keahlian dokter dan kecanggihan perangkat modern.
Dalam pandangannya, YB Jason H’ng Mooi Lye menegaskan perlunya sinergi kuat lintas sektor demi membangun ekosistem kesehatan unggulan di tingkat internasional. "Program seperti SSMART menunjukkan bagaimana kemitraan ini dapat membawa keahlian dari berbagai negara di kawasan ke Penang, sekaligus memperkuat posisi Penang sebagai destinasi unggulan layanan kesehatan," terang YB Jason, dalam keterangan resminya.
Delegasi Indonesia yang terdiri dari dokter spesialis bedah umum, urologi, hingga ortopedi turut memberikan perspektif penting terkait tantangan pelayanan medis di tanah air. Pertukaran informasi dua arah ini memungkinkan setiap negara menyesuaikan adopsi teknologi robotik berdasarkan kesiapan institusi masing-masing.
Selain memperdalam sesi teknis, para peserta memperoleh paparan langsung mengenai penggunaan perangkat presisi tinggi seperti Da Vinci Xi dan Mako SmartRobotics System. Pemahaman komprehensif ini diharapkan dapat dibawa kembali untuk mendukung peningkatan kapasitas serta tata kelola tim medis di negara asal.
Pihak penyelenggara menekankan bahwa keberhasilan penerapan bedah robotik tidak semata-mata bergantung pada keberadaan mesin canggih di kamar operasi. Kesinambungan perawatan tetap membutuhkan kesiapan sistem, perencanaan praoperasi yang matang, serta koordinasi tim medis secara holistik.
Chief Executive Officer Sunway Medical Centre Penang, Ms Christine Lee, menyampaikan bahwa integrasi kerja sama tim tetap menjadi kunci utama keselamatan pasien. "Di balik setiap prosedur yang berhasil terdapat tim multidisiplin yang kuat, di mana keahlian dan dedikasi mereka tetap menjadi inti dari hasil perawatan," papar Christine.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
.png)
1 hour ago
1















































