Ribuan Ton Limbah Ban yang tak Kita Lihat

3 hours ago 2

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Muhammad Khafidh (Dosen Teknik Mesin Universitas Islam Indonesia)

Ketika mengganti ban kendaraan pernahkah kita bertanya ke mana perginya bagian ban yang terkikis? Pertanyaan ini penting ketika kita melihat jumlah kendaraan di Indonesia. Pada 2023, BPS mencatat jumlah kendaraan bermotor di Indonesia sekitar 157 juta. Sebagian besar berupa sepeda motor, yang jumlahnya mencapai 132 juta unit. Mobil penumpang menyusul dengan sekitar 18,3 juta unit.

Semua kendaraan itu menggunakan ban. Jika satu sepeda motor memakai dua ban dan satu mobil memakai empat, jumlahnya sekitar 338 juta ban. Itu baru dari sepeda motor dan mobil penumpang. Belum termasuk bus dan truk yang setiap hari mengangkut penumpang serta barang.

Selama kendaraan berjalan, permukaan ban terus bergesekan dengan jalan dan perlahan terkikis. Kita biasanya baru memperhatikannya ketika alur ban mulai menipis dan perlu diganti. Padahal, material yang terkikis sudah terlepas sepanjang perjalanan. Semakin jauh kendaraan digunakan, semakin banyak pula material ban yang berpotensi tersebar ke lingkungan.

Untuk membayangkan skalanya, kita dapat memakai angka keausan ban yang digunakan Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD), yakni rata-rata 0,1 gram per mobil penumpang per kilometer. Angka ini mencakup seluruh ban pada mobil. Besarnya keausan berbeda menurut beban kendaraan, kondisi jalan, jenis ban, dan cara mengemudi.

Jika sebuah mobil diasumsikan menempuh 10 ribu kilometer setahun, material ban yang terlepas mencapai sekitar satu kilogram. Bila diterapkan pada 18,3 juta mobil penumpang, jumlahnya mencapai sekitar 18.300 ton setahun. Itu baru dari mobil penumpang, belum termasuk sepeda motor, bus, dan truk. Perhitungan ini merupakan ilustrasi, bukan hasil pengukuran nasional. Perkiraan yang lebih akurat membutuhkan data kendaraan aktif dan jarak tempuhnya.

Material yang terkikis itu terlepas menjadi partikel kecil dan bercampur dengan debu jalan. Ketika hujan turun, sebagian terbawa air menuju selokan dan sungai. Sebagian lainnya tertahan di tanah atau mengendap di dasar perairan. Saat jalan mengering, partikel yang cukup kecil dapat terangkat kembali oleh angin dan dapat terhirup oleh manusia. Pencemaran partikel ban ini yang seringkali tidak disadari oleh masyarakat. United Nations Environment Programme (UNEP) menyebut partikel keausan ban sebagai salah satu sumber penting pencemaran mikroplastik

Setelah masa pakainya habis, muncul persoalan berikutnya: ban bekas. Teknologi pengolahan ban bekas sebenarnya sudah tersedia. Ban tertentu dapat divulkanisasi agar bisa digunakan kembali. Ban bekas juga dapat diolah menjadi bahan produk lain atau dimanfaatkan untuk pemulihan energi. Namun, tersedianya teknologi belum otomatis menuntaskan masalah. Pengumpulan, biaya pengolahan, keamanan proses, dan pengawasan lingkungan tetap harus dipastikan. Pengumpulan yang tidak berjalan baik membuka peluang ban bekas dibuang sembarangan atau dibakar tanpa pengendalian.

Oleh karena itu, penanganan perlu dimulai sejak ban digunakan. Pengendara dapat menjaga tekanan ban sesuai rekomendasi, menghindari muatan berlebihan, serta mengurangi akselerasi dan pengereman mendadak. Kebiasaan tersebut membantu mengurangi keausan sekaligus menjaga keselamatan. Produsen juga perlu mengembangkan ban yang lebih tahan aus tanpa mengurangi daya cengkeramnya.

Pemerintah dan perguruan tinggi perlu melengkapi langkah itu dengan penelitian. Kita membutuhkan data keausan ban dalam kondisi jalan Indonesia, terutama untuk sepeda motor yang mendominasi kendaraan di Indonesia. Pemantauan debu jalan dan aliran air hujan dapat membantu menentukan lokasi penanganan. Penguatan angkutan umum juga penting untuk mengurangi perjalanan kendaraan pribadi.

Untuk ban bekas, sistem pengembalian melalui bengkel dan penjual ban layak dikembangkan. Produsen perlu dilibatkan agar tanggung jawabnya berlanjut setelah penjualan. Masyarakat pun membutuhkan informasi tentang tempat penyerahan ban bekas dan bagaimana ban tersebut akan diolah.

Persoalan ini tetap ada pada kendaraan listrik karena bannya juga bergesekan dengan jalan. Oleh karena itu, transportasi bersih perlu mencakup lebih dari emisi knalpot. Saat mengganti ban yang menipis, kita perlu mengingat bahwa sebagian materialnya sudah tertinggal sepanjang perjalanan. Mengelola ban bekas penting, tetapi mengurangi pencemaran selama ban digunakan juga perlu mendapat perhatian.

Read Entire Article
IDX | INEWS | SINDO | Okezone |