REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA -- Keputusan KH Ahmad Sahal dan KH Imam Zarkasyi untuk mengungsi bersama para santri Gontor ke Trenggalek tidak serta-merta membawa mereka menuju keselamatan. Dalam perjalanan melewati pegunungan Soko, rombongan tersebut dikepung gerombolan bersenjata yang diduga merupakan bagian dari pemberontak PKI. Peristiwa itu menjadi salah satu episode menegangkan dalam sejarah Gontor, ketika Trimurti dan para santri menghadapi penahanan, ancaman kekerasan, dan bahaya maut oleh pemberontak PKI.
Di sepanjang jalan dari Gontor menuju Soko tersimpan kisah perjuangan dan pengorbanan Trimurti beserta rombongan santri mereka saat itu. Kisah ini terjadi pada tahun 1948, saat PKI mencoba melakukan pemberontakan terhadap pemerintah. Sejumlah pondok pesantren dengan para kiai dan santri-santrinya terkena imbas pemberontakan ini karena dianggap menjadi penghalang upaya-upaya PKI dan antek-anteknya mengambil alih kekuasaan. Sehingga, sejumlah pondok pesantren yang dicurigai menggalang perlawanan terhadap PKI diserang hingga tidak sedikit santri-santri yang kehilangan nyawa, begitu juga para kiainya.
Pondok Modern Darussalam Gontor pun tidak luput dari kecurigaan PKI, walaupun jarak Gontor dari pusat pemberontakan PKI di Madiun terpaut sekitar 40 kilometer. Oleh sebab itu, berdasarkan kisah yang tertuang di buku biografi KH Imam Zarkasyi, keadaan yang semula tenang menjadi penuh kekhawatiran. Saat itu, para santri menjadi resah. Mereka khawatir akan menjadi korban situasi yang tidak menguntungkan itu. Demikian dikutip dari laman resmi Pondok Modern Darussalam Gontor, gontor.ac.id.
Sebagian santri kemudian ada yang minta izin pulang, khususnya mereka yang bertempat tinggal tidak jauh dari pondok. Sementara itu, sebagian lain masih banyak yang tetap tinggal di dalam pondok. KH Ahmad Sahal dan KH Imam Zarkasyi, sebagai Pimpinan Pondok, mencoba bersikap tenang sambil berpikir tentang langkah-langkah yang harus ditempuh untuk mengantisipasi keadaan tersebut.
Setelah dua hari berlalu, pemberontak mulai memasuki wilayah Jetis yang hanya berjarak 3 kilometer di sebelah barat Gontor. Saat itu mulai terdengar berita bahwa sejumlah kiai telah dihabisi oleh PKI. Mendengar berita-berita semacam itu, sejumlah orang mengkhawatirkan keselamatan KH Ahmad Sahal dan KH Imam Zarkasyi.
KH Ahmad Sahal dan KH Imam Zarkasyi kemudian bermusyawarah dengan beberapa santri seniornya, seperti Ghozali Anwar dan Shoiman. Dari musyawarah itu lalu ditetapkan bahwa melawan pemberontak adalah sesuatu yang tidak mungkin. Satu-satunya jalan yang bisa ditempuh adalah menyelamatkan diri dengan cara mengungsi.
sumber : gontor.ac.id
.png)
2 hours ago
1
















































