REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kecerdasan buatan (AI) bukan lagi sekadar bumbu dalam film fiksi ilmiah, melainkan kekuatan tak kasat mata yang kini menggerakkan roda peradaban global. Di tahun 2026, AI telah berevolusi menjadi instrumen strategis yang mampu melampaui kemampuan kognitif manusia dalam mengolah data raksasa, mengubah cara kita bekerja, berinteraksi, hingga menentukan keputusan ekonomi yang paling kompleks sekalipun.
Kehadirannya telah menciptakan garis pemisah yang jelas antara perusahaan yang terjebak dalam masa lalu dengan para visioner yang mampu menjinakkan teknologi ini untuk efisiensi yang ekstrem. Disrupsi yang dibawa oleh AI menyentuh setiap aspek kehidupan, mulai dari otomasi industri yang memangkas waktu produksi secara drastis hingga algoritma personal yang mampu memprediksi kebutuhan kesehatan manusia sebelum gejala muncul, menjadikan teknologi ini sebagai motor utama transformasi ekonomi dunia.
Dampak nyata dari kekuatan AI ini terpapar jelas dalam laporan terbaru raksasa energi global, Saudi Aramco. Dalam Forum Ekonomi Dunia (WEF) 2026 di Davos, Swiss, CEO Saudi Aramco, Amin Nasser, mengungkapkan transformasi finansial yang mencengangkan. Ia mengumumkan bahwa nilai tambah yang diperoleh perusahaan dari penerapan AI melonjak hingga 6 miliar dolar AS sepanjang tahun 2023 dan 2024. Sebagai perbandingan, angka tersebut sebelumnya tidak pernah melampaui 300 juta dolar AS per tahun.
AI telah mendisrupsi kehidupan saat ini dengan cara yang paling mendasar, yakni melalui efisiensi kognitif. Dalam dunia profesional, AI menggantikan tugas-tugas rutin yang membosankan dan rentan kesalahan, memungkinkan manusia untuk fokus pada kreativitas dan strategi tingkat tinggi. Di sisi lain, dalam kehidupan sehari-hari, AI mempersonalisasi setiap pengalaman digital kita, mulai dari apa yang kita konsumsi hingga bagaimana kita bermobilisasi, menciptakan kenyamanan yang sebelumnya tidak terbayangkan, sebagaimana diberitakan Asharq al Awsath.
Namun, disrupsi ini juga membawa tantangan besar, terutama pada pergeseran pasar kerja dan privasi data. AI mampu memproses informasi dalam skala yang tidak mungkin dilakukan otak manusia, yang di satu sisi mempercepat inovasi medis dan teknologi, namun di sisi lain menimbulkan kekhawatiran akan ketergantungan pada algoritma. Kehidupan saat ini kini berada dalam fase transisi di mana batasan antara tindakan manusia dan rekomendasi mesin menjadi semakin kabur, memaksa kita untuk terus beradaptasi dengan kecepatan yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Kekhasan AI yang mampu menghadirkan kemudahan bagi perusahaan sekelas Aramco terletak pada kemampuannya melakukan analisis prediktif dan pemodelan simulasi yang sangat presisi. AI tidak hanya melihat data saat ini, tetapi mampu mensimulasikan ribuan skenario geologi di sektor eksplorasi dan produksi dengan kecepatan cahaya. Hal ini memungkinkan perusahaan untuk menekan risiko kegagalan bor, mengoptimalkan aliran pemeliharaan kilang sebelum terjadi kerusakan, dan mengambil keputusan operasional yang otonom di tengah medan yang ekstrem.
Amin Nasser menekankan bahwa kunci sukses ini bukan hanya soal membeli perangkat keras seperti chip atau unit pemroses grafis (GPU) terbaru, melainkan pada kualitas data dan pembentukan talenta manusia. Aramco kini diperkuat oleh 6.000 talenta yang terlatih khusus dalam bidang kecerdasan buatan. Memiliki ribuan ahli ini krusial karena merekalah yang membangun model AI khusus yang sesuai dengan karakter cadangan minyak Arab Saudi, memastikan bahwa teknologi tersebut bukan sekadar produk jadi, melainkan solusi organik yang terus berkembang sesuai kebutuhan spesifik perusahaan.
.png)
1 hour ago
2












































