Kemenlu: AS Uji Coba Senjata Baru dengan Target Warga Sipil Iran

1 hour ago 1

REPUBLIKA.CO.ID, TEHERAN -- Iran menuduh AS tengah menguji sistem senjata baru pada warga sipil Iran selama perang

Seperti yang telah dilaporkan sebelumnya, juru bicara Kementerian Luar Negeri Baghaei telah membagikan detail serangan rudal AS terhadap sebuah gedung olahraga pada 28 Februari, hari pertama perang AS-Israel di Iran.  Serangan itu menurutnya menewaskan 24 orang, termasuk seorang gadis berusia dua tahun.

Dalam unggahannya di X, Baghaei mengatakan serangan itu menggunakan sistem senjata baru yang melibatkan rudal ledakan udara yang melepaskan peluru tungsten berkecepatan tinggi sehingga menghancurkan area tersebut ke segala arah dengan kekuatan dahsyat.

"Ini bukan kesalahan – ini adalah keputusan yang diperhitungkan untuk menguji daya hancur sistem senjata baru pada warga sipil Iran," kata Baghaei.

"Tindakan seperti itu merupakan kejahatan perang yang jelas dan tercela."

Serangan AS-Israel di Iran telah menewaskan lebih dari 3000 orang. Hingga kini Iran ogah menyerah dan negosiasi masih memasuki tahapan yang sangat sulit. AS menuntut penyerahan uranium milik Iran. Teheran bersikukuh ogah menyerahkan. 

Di tengah kondisi memanas itu, AS kembali melancarkan serangan ke Iran selatan sebagai uji coba gencatan senjata selama tujuh pekan. 

"Pasukan AS menargetkan lokasi peluncuran rudal dan kapal-kapal yang mencoba memasang ranjau," kata Komando Pusat AS (Centcom) pada Selasa.

Serangan tersebut  menunjukkan bahwa gencatan senjata dengan Iran belum berakhir.

Di Iran, situs berita Tabnak, yang diyakini dekat dengan mantan kepala Garda Revolusi Mohsen Rezaei, mengidentifikasi empat tentara Garda yang tewas dalam serangan tersebut.

Mereka telah dibunuh dalam serangan Amerika terhadap kapal-kapal Iran. Televisi pemerintah Iran secara terpisah melaporkan ledakan di sekitar Bandar Abbas, sebuah kota di Selat Hormuz yang merupakan rumah bagi pelabuhan militer dan bandara dengan fungsi ganda.

Kantor berita pemerintah Iran, Mehr, kemudian mengatakan bahwa situasi sepenuhnya terkendali dan tidak ada alasan bagi penduduk untuk khawatir.

Serangan tersebut merupakan kedua terbesar yang terjadi selama gencatan senjata tujuh minggu. Serangan itu terjadi ketika Mohammad Bagher Ghalibaf, ketua parlemen Iran, memimpin delegasi negosiator ke Qatar.

Media lokal mengatakan menteri luar negeri Iran, Abbas Araghchi, dan gubernur bank sentral, Abdolnaser Hemmati, juga termasuk dalam kelompok tersebut.

Kehadiran Hemmati telah memicu spekulasi bahwa pembicaraan akan fokus pada pelepasan aset Iran yang dibekukan.

Kesepakatan yang saat ini sedang dinegosiasikan dengan AS dilaporkan akan membuat Washington setuju untuk mencairkan beberapa aset Iran yang disimpan di bank-bank di luar Iran – termasuk Qatar.

Read Entire Article
IDX | INEWS | SINDO | Okezone |