Kala Ketahanan Pangan Menopang Kehidupan Santri di Jombang

2 weeks ago 12

REPUBLIKA.CO.ID,JOMBANG —  Di Pesantren Al-Urwatul Wutsqo Jombang, santri belajar bahwa sepiring nasi bukan sekadar hidangan, melainkan hasil dari doa, kerja keras, dan pengelolaan alam. Santri tidak hanya mengaji, tetapi juga menjadi pelaku ketahanan pangan yang menopang kehidupan pesantren. Di balik lantunan ayat-ayat suci yang menggema setiap hari, Pesantren Al-Urwatul Wutsqo Jombang menyimpan pelajaran hidup lain yang tak kalah penting. 

Para santri di pesantren ini belajar menyentuh tanah, merawat tanaman, memberi pakan ternak, hingga mengolah hasil panen menjadi makanan untuk ribuan porsi konsumsi harian. Pesantren yang berdiri sejak 1946 oleh KH Muhammad Ya’qub ini awalnya hanya menjadi tempat mengaji. Seiring berjalannya waktu, madrasah-madrasah lahir dan jumlah santri terus bertambah. Sejarah panjang pesantren membentuk tradisi kuat: siapa pun yang datang untuk belajar agama, akan diterima dan dihidupi. 

Pada masa kepemimpinan KH  M Qoyim Ya’qub, pesantren bahkan membebaskan seluruh biaya pendidikan santri. Santri yang memiliki rezeki dipersilakan berinfak, sementara yang tidak membawa apa pun tetap diasuh sepenuhnya. Untuk memenuhi kebutuhan makan, pesantren membutuhkan sekitar Rp175 ribu per santri setiap bulan. Jumlah santri mencapai lebih dari 550 orang, terdiri dari sekitar 250 santri putra dan 300 santri putri.

Seiring meningkatnya kebutuhan dan tantangan ekonomi, pesantren menyadari bahwa kemandirian pangan menjadi kunci keberlangsungan. Upaya tersebut semakin diperkuat melalui Program Pesantren Sehat yang diinisiasi oleh BSI Maslahat, khususnya pada aspek ketahanan pangan. Melalui program ini, pesantren mendapatkan dukungan pengembangan usaha ketahanan pangan berbasis integrated farming, yang menghubungkan sektor pertanian, peternakan, dan perikanan dalam satu sistem terpadu.

Di Pesantren Urwatul Wutsqo, pendekatan ini diterapkan melalui konsep permakultur (permanent agriculture). Permakultur dirancang meniru pola alam, membangun ekosistem yang saling terhubung, produktif, dan berkelanjutan. Tidak ada yang terbuang. Limbah organik diolah kembali menjadi pupuk, sementara hasil panen dimanfaatkan secara optimal untuk kebutuhan santri dan operasional pesantren. 

Read Entire Article
IDX | INEWS | SINDO | Okezone |