Warga Palestina menyaksikan serangan udara Israel di Jalur Gaza, 28 Juli 2026. Kementerian Kesehatan Palestina menyatakan setidaknya empat orang syahid dalam serangan Israel di berbagai wilayah tersebut pada 28 Juli 2026.
REPUBLIKA.CO.ID, TEL AVIV— Otoritas Penyiaran Israel, mengutip sumber militer, melaporkan bahwa Kepala Staf Angkatan Bersenjata Israel, Eyal Zamir, telah mengeluarkan instruksi untuk membatasi operasi ofensif di Jalur Gaza.
Keputusan tersebut diambil setelah Dewan Perdamaian menyatakan bahwa Israel harus menghentikan operasi pembunuhan terarah.
Sumber militer itu menambahkan bahwa tentara Israel menegaskan langkah tersebut dilakukan berdasarkan arahan dari tingkat kepemimpinan politik.
Di saat yang sama, sejumlah sumber keamanan Israel mengungkapkan bahwa militer telah memberlakukan pembatasan yang jauh lebih ketat terhadap pelaksanaan operasi pembunuhan terarah dan penyerangan di Jalur Gaza.
Kebijakan ini diperkirakan akan mengurangi jumlah serangan udara dibandingkan beberapa bulan terakhir, seiring dengan perkembangan politik dan situasi lapangan yang berkaitan dengan peta jalan menuju tahap kedua perjanjian gencatan senjata.
Aljazeera, pada Kamis (6/8/2026), melaporkan koresponden militer Radio Angkatan Darat Israel, Doron Kadosh, mengutip sumber-sumber keamanan yang menyebutkan bahwa Komando Wilayah Selatan telah memperketat aturan penggunaan kekuatan di Gaza.
Kini, setiap operasi pembunuhan terarah harus memperoleh persetujuan langsung dan eksklusif dari Kepala Staf Eyal Zamir.
Sebelumnya, hingga awal pekan lalu, operasi semacam itu cukup mendapat persetujuan dari komandan wilayah atau komandan divisi militer.
Menurut sumber tersebut, keputusan ini mencerminkan perubahan yang cukup signifikan dalam kebijakan operasional militer Israel di Gaza.
Serangan udara kini dibatasi lebih ketat dibandingkan sebelumnya, sehingga intensitas serangan diperkirakan akan menurun pada periode mendatang.
Data di lapangan juga menunjukkan adanya penurunan aktivitas militer Israel di Jalur Gaza. Sumber-sumber keamanan menyebutkan bahwa dalam 48 jam terakhir tentara Israel hanya melancarkan satu serangan udara, setelah sebelumnya terjadi eskalasi selama beberapa hari.
.png)
3 hours ago
6

















































