faktor edukasi juga memiliki peran penting yang harus menjadi perhatian bagi seluruh pihak dalam ekosistem keuangan nasional.
Inklusi Keuangan Diklaim Jadi Pedang Bermata Dua, Begini Solusi versi Bank Jago (ARTO) (foto: MNC media)
IDXChannel - Upaya pemerintah untuk senantiasa mendorong inklusi keuangan demi memperluas akses masyarakat terhadap produk dan layanan perbankan dinilai mulai menemui titik terang.
Meski demikian, ketersediaan akses tersebut diyakini tidak serta merta dapat menjamin kehidupan dan perekonomian masyarakat bakal semakin membaik.
"Inklusi keuangan itu tidak sekadar tersedianya akses (masyarakat) terhadap produk dan layanan keuangan. Misalnya saja produk kredit. Jika tidak tahu cara memanfaatkannya, mereka justru bisa terjebak dalam utang, dan situasi bisa jadi lebih buruk (dibanding sebelum memiliki akses kredit)," ujar Head of Retail Banking Business PT Bank Jago Tbk (ARTO), Nicholas Tan, dalam keterangan resminya, Selasa (25/3/2025).
Karenanya, menurut Nicholas, faktor edukasi juga memiliki peran penting yang harus menjadi perhatian bagi seluruh pihak dalam ekosistem keuangan nasional.
Upaya edukasi bersama inovasi di bidang teknologi keuangan (financial technology/fintech) dinilai Nicholas menjadi 'kunci kembar' yang bakal menjadi pengubah permainan (game changer) dalam industri keuangan nasional, bahkan global, di masa mendatang.
Sebagai bank dengan pola bisnis berbasis teknologi, Nicholas percaya diri bahwa Bank Jago bakal mampu mengambil peran secara maksimal dalam meningkatkan inklusi keuangan di seluruh wilayah di Indonesia.
"Namun seperti Saya bilang tadi, faktor knowledge tetap jadi poin penting. Jika mereka (masyarakat/nasabah) tidak siap atau dalam posisi tidak sehat secara keuangan, kami lebih baik tidak tawarkan dulu," ujar Nicholas.
Prinsip menjaga keseimbangan antara edukasi dan ketersediaan produk dan layanan keuangan tersebut, dikatakan Nicholas, tak lepas dari visi dan misi Bank Jago untuk dapat mewujudkan pola pertumbuhan bisnis berkelanjutan, yang tidak hanya berfokus pada perolehan profit, namun juga sekaligus mempertimbangkan kebermanfaatan Perseroan di tengah masyarakat.
"(Kebermanfaatan) Itu bisa nampak dari kondisi keuangan masyarakat yang lebih sehat, dampak yang lebih luas terhadap banyak orang, dan meningkatkan kesempatan tumbuh mereka," ujar Nicholas.
Target untuk mengejar pertumbuhan berkelanjutan tersebut, dikatakan Nicholas, menjadi salah satu fokus kerjanya sejak resmi bergabung dengan Bank Jago pada 1 Januari 2025 lalu.
Jika mampu mewujudkan pertumbuhan berkelanjutan, maka Bank Jago diyakini Nicholas bakal berkembang dan masuk dalam fase pertumbuhan selanjutnya, yaitu sebagai perbankan yang dicintai dan memiliki keterikatan (engagement) dengan para nasabahnya.
"Kami perlu terus membuat kemajuan menuju ke sana, serta dapat memberikan orang-orang pengalaman yang menarik dan membuat mereka ingin membagikan pengalaman menggunakan Jago untuk mengelola keuangan secara lebih mudah, kepada teman-teman dan keluarga mereka," ujar Nicholas.
Demi mencapai tujuan tersebut, Nicholas menilai bahwa membangun kepercayaan nasabah dan menjaga posisi sebagai yang terdepan dalam inovasi, menjadi dua hal yang penting.
Pertama, membangun kepercayaan dilakukan dengan memberikan pengalaman dan menjaga keamanan dan stabilitas penggunaan Aplikasi Jago di level yang sangat baik. Ini penting untuk memastikan nasabah selalu merasa aman untuk menabung dan bertransaksi lebih banyak di Bank Jago.
Selain itu Bank Jago sebagai bank perlu memiliki manajemen risiko, likuiditas, dan regulasi. Menurut Nicholas, beberapa orang seringkali mengabaikan hal-hal tersebut dan beberapa di antaranya (startup) sudah terjerumus masalah dalam manajemen keuangan yang buruk.
"Bank Jago berada dalam posisi yang baik karena dengan pengalaman yang dimiliki manajemen mampu membangun kepercayaan di sisi ini," ujar Nicholas.
Kedua, lanjut Nicholas, inovasi selalu menjadi bagian penting dari DNA Bank Jago. Menjadi yang terdepan dalam inovasi berarti selalu mencari cara baru untuk menawarkan pengalaman perbankan yang relevan kepada nasabah.
Ini penting untuk menjawab tantangan bagaimana Bank Jago memiliki keunikan yang berbeda dengan bank lain serta menjadi relevan dengan kebutuhan nasabah.
"Namun penting juga untuk tidak masuk ke dalam hype teknologi baru. Kami perlu memastikan bahwa cara kami berinovasi dan menggunakan teknologi, termasuk AI, memang harus berguna dan dapat dipersonalisasi untuk nasabah, tidak hanya karena ingin ikut-ikutan menggunakannya saja," tegas Nicholas.
(taufan sukma)