
Oleh : Jarman Arroisi, Peneliti Psikologi Islam dan Pengelola Pascasarjana Universitas Darussalam Gontor
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kesehatan mental telah menjadi isu global yang tidak lagi bisa diabaikan. Gangguan kecemasan, depresi, kelelahan emosional, hingga kehilangan makna hidup semakin sering dijumpai di berbagai lapisan masyarakat. Fenomena ini tidak hanya terjadi di negara berkembang, tetapi juga di pusat-pusat peradaban modern yang memiliki fasilitas kesehatan dan teknologi paling maju. Ironisnya, krisis ini justru muncul di tengah kemajuan ilmu kedokteran dan psikologi kontemporer.
Hal tersebut menunjukkan bahwa persoalan kesehatan mental tidak cukup diselesaikan melalui pendekatan medis dan teknis semata. Ada dimensi manusia yang terabaikan: ruh, makna hidup, dan keseimbangan eksistensial. Dalam konteks inilah, pemikiran klasik Islam menemukan relevansi barunya. Salah satu tokoh sentral yang menawarkan pandangan kesehatan jiwa secara utuh adalah Ibn Sina (Avicenna). Pemikir besar ini tidak hanya dikenal sebagai bapak kedokteran, tetapi juga sebagai perintis psikologi dan filsafat kesehatan dalam tradisi Islam.
Sehat Bukan Sekadar Tidak Sakit
Dalam pandangan Ibn Sina, sehat bukan berarti sekadar bebas dari penyakit. Sehat adalah kondisi keseimbangan menyeluruh, yang dalam istilahnya disebut al-i‘tidāl. Keseimbangan ini mencakup tubuh, emosi, akal, gaya hidup, serta hubungan manusia dengan lingkungan sosialnya. Seseorang bisa terlihat sehat secara fisik, tetap produktif, dan mampu menjalankan rutinitas harian, tetapi sesungguhnya berada dalam kondisi rapuh secara batin.
Jiwa mudah lelah, emosi tidak stabil, dan hidup terasa kosong. Menurut Ibn Sina, kondisi semacam ini belum dapat disebut sebagai kesehatan sejati. Pandangan tersebut terasa sangat relevan di era digital, ketika banyak orang tampak aktif dan sukses secara lahiriah, tetapi mengalami kelelahan mental yang mendalam. Ibn Sina mengajarkan bahwa kesehatan sejati adalah harmoni hidup, bukan sekadar fungsi tubuh yang berjalan normal.
Tubuh dan Jiwa Saling Mempengaruhi
Ibnu Sina menolak pemisahan tegas antara tubuh dan jiwa. Dalam kerangka berpikirnya, kondisi batin manusia selalu berdampak pada tubuh, dan kondisi tubuh akan memengaruhi keadaan jiwa. Emosi bukan sekadar perasaan abstrak, melainkan memiliki konsekuensi biologis yang nyata. Ia menjelaskan bahwa kemarahan dapat meningkatkan aliran darah dan panas tubuh, menyebabkan wajah memerah dan ketegangan otot.
Sebaliknya, ketakutan atau syok dapat membuat wajah pucat dan tubuh melemah karena darah tertarik ke bagian dalam. Penjelasan ini menunjukkan pemahaman awal tentang hubungan psikis dan fisik yang kini dikenal sebagai gangguan psikosomatik. Temuan medis modern membuktikan bahwa stres kronis dan tekanan emosional berkontribusi besar terhadap berbagai penyakit fisik. Pemikiran Ibn Sina menegaskan bahwa kesehatan mental dan fisik tidak dapat dipisahkan, sebab keduanya merupakan satu kesatuan yang saling terkait.
Struktur Jiwa Manusia
Untuk memahami kesehatan mental secara mendalam, Ibn Sina membagi jiwa manusia ke dalam tiga lapisan. Pembagian ini membantu menjelaskan dinamika konflik batin dan gangguan psikologis. Lapisan pertama adalah jiwa nabatiyah, yang berkaitan dengan fungsi dasar kehidupan seperti makan, pertumbuhan, dan reproduksi. Ketika kebutuhan dasar ini terganggu, misalnya karena kurang tidur, pola makan buruk, atau kelelahan fisik, keseimbangan mental ikut terganggu. Lapisan kedua adalah jiwa hayawaniyah, yang mengatur emosi, dorongan, dan perasaan.
.png)
4 hours ago
3















































