Tank Israel beroperasi di sepanjang perbatasan Israel-Lebanon, dekat Galilea Atas, di Israel utara, 26 Maret 2026. Israel melanjutkan operasi di Lebanon pada awal Maret 2026, menargetkan infrastruktur dan personel Hizbullah.
REPUBLIKA.CO.ID, BEIRUT — Di selatan Lebanon, tank-tank tidak lagi melaju seperti biasa, seolah-olah mereka adalah penentu akhir di medan perang.
Raksasa baja yang dulu memaksakan kekuasaannya dengan kekuatan meriam dan ketebalan lapis bajanya, kini bergerak dengan perlahan dan terukur, atau terkadang berhenti dan bersembunyi di sisi.
Hal ini karena ancaman tidak lagi hanya bersembunyi di balik bukit atau di antara bangunan dalam bentuk pejuang yang membawa rudal penembus lapis baja, melainkan kini menggantung di langit tepat di atasnya, di mana sebuah drone kecil berputar-putar, hampir tak terlihat atau terdengar, namun dilengkapi dengan kamera dan sensor yang cukup untuk mencari titik lemah sebelum melancarkan serangannya dengan presisi dari atas.
Dalam skenario baru ini, senjata ringan, murah, dan kecil—yang harganya tak sepersepuluh dari harga tank—dapat mengacaukan kru tank, merusak sistem sensitifnya, atau melumpuhkan gerakannya, sekadar sementara, sehingga memaksa tank beralih dari posisi menyerang ke posisi waspada.
Di era di mana keunggulan tidak lagi hanya milik mereka yang memiliki logam terberat, melainkan milik mereka yang melihat lebih dulu dan menyerang dari tempat yang tidak terduga, tank—yang tidak lagi menjadi raja tak terbantahkan dalam pertempuran darat seperti sebelum Perang Ukraina—kini menghadapi serangan baru di medan perang di Selatan Lebanon.
Perang telah berkecamuk selama bertahun-tahun di Ukraina dan dinamikanya terus berubah dari hari ke hari. Pada 2024, Reuters dalam laporan panjang menggambarkan bagaimana drone "first-person view" (FPV) mengubah peta perang.
Drone-drone ini telah menjadikan pergerakan kendaraan dan tank sebagai risiko hampir setiap hari, hingga seorang komandan tank Ukraina mengatakan kepada agensi tersebut bahwa tank Ukraina dan Rusia tidak lagi berani memasuki ke lapangan terbuka karena akan menghadapi hujan drone, dan tank model "T-72" akhirnya hanya berani bersembunyi dan digunakan secara efektif sebagai artileri statis.
Drone FPV bergantung pada operator, yang melihat tangkapan kamera yang terpasang di bagian depannya secara real-time, seolah-olah ia duduk di dalamnya atau bermain game elektronik.
Hal ini memberinya kemampuan manuver dan akurasi yang tinggi, baik dalam pengintaian maupun dalam melancarkan serangan langsung ke sasaran tertentu.
.png)
5 hours ago
1

















































