Kendaraan, Jalan, dan Rahasia Pulang

2 hours ago 2

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Ada momen-momen sederhana yang sering kita anggap remeh: duduk di dalam kendaraan, menatap jalan yang terbentang, lalu bergerak menuju tujuan. Padahal, di balik gerak yang terasa biasa itu, ada ibrah yang begitu dalam, tentang kuasa, ketundukan, dan kepulangan.

Allah mengabadikan momen itu dalam Surah az-Zukhruf berikut ini:

وَٱلَّذِى خَلَقَ ٱلْأَزْوَٰجَ كُلَّهَا وَجَعَلَ لَكُم مِّنَ ٱلْفُلْكِ وَٱلْأَنْعَٰمِ مَا تَرْكَبُونَ (12)

لِتَسْتَوُوا۟ عَلَىٰ ظُهُورِهِۦ ثُمَّ تَذْكُرُوا۟ نِعْمَةَ رَبِّكُمْ إِذَا ٱسْتَوَيْتُمْ عَلَيْهِ وَتَقُولُوا۟ سُبْحَٰنَ ٱلَّذِى سَخَّرَ لَنَا هَٰذَا وَمَا كُنَّا لَهُۥ مُقْرِنِينَ (13)

وَإِنَّآ إِلَىٰ رَبِّنَا لَمُنقَلِبُونَ (14)

Walladzī khalaqal-azwāja kullahā wa ja‘ala lakum minal-fulki wal-an‘āmi mā tarkabūn.

Litastawū ‘alā ẓuhūrihī tsumma tadzkurū ni‘mata rabbikum idzastawaitum ‘alaihi wa taqūlū subḥānalladzī sakhkhara lanā hādzā wa mā kunnā lahū muqrinīn.

Wa innā ilā rabbinā lamunqalibūn.

“Dia yang menciptakan semua yang berpasang-pasangan dan menjadikan untukmu kapal dan binatang ternak yang kamu tunggangi. Agar kamu duduk di atasnya, kemudian kamu mengingat nikmat Tuhanmu ketika kamu telah duduk di atasnya, dan kamu mengucapkan: ‘Mahasuci Tuhan yang telah menundukkan semua ini bagi kami, padahal kami sebelumnya tidak mampu menguasainya.’ Dan sesungguhnya kepada Tuhan kami, kami akan kembali.”

Ayat ini tidak sekadar mengajarkan doa perjalanan. Ia seperti mengetuk pelan kesadaran kita: bahwa setiap perpindahan adalah pengingat tentang siapa yang sesungguhnya menggerakkan.

Kita sering merasa mengendalikan, kemudi di tangan, arah di kepala, tujuan di depan mata. Namun Alquran menyelipkan satu kalimat yang meruntuhkan rasa kuasa itu: “wa mā kunnā lahū muqrinīn”, kita sama sekali tidak memiliki kemampuan untuk menaklukkannya.

Di situlah ibrah pertama: manusia berjalan di atas sesuatu yang tidak pernah benar-benar ia kuasai. Bukan hanya kendaraan, tetapi juga hidup itu sendiri.

Imam Fakhruddin ar-Razi, dalam tafsirnya Mafātīḥ al-Ghaib, melihat ayat ini sebagai pengalihan kesadaran dari yang kasat mata menuju yang hakiki. Menurutnya, penyebutan “kendaraan” bukan sekadar soal fungsi, tetapi tentang tasḫīr, penundukan alam oleh kehendak Allah. Seekor hewan yang secara fisik lebih kuat dari manusia, atau lautan yang jauh lebih luas dari tubuh kita, semuanya tunduk bukan karena manusia hebat, tetapi karena Allah menundukkannya.

Read Entire Article
IDX | INEWS | SINDO | Okezone |