Heboh Penarikan Susu Bayi Nestle di Luar Negeri, Ini Kata IDAI

3 hours ago 2

Logo Nestle. IDAI mengimbau masyarakat di Indonesia tidak perlu panik atas kabar penarikan susu Nestle.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kekhawatiran para orang tua mengenai keamanan pangan bayi kembali mencuat menyusul laporan penarikan produk susu formula Nestle di sejumlah negara seperti Hong Kong, Malaysia, hingga beberapa wilayah di Eropa. Langkah ini diambil pada awal Januari 2026 setelah ditemukannya potensi kontaminasi toksin cereulide yang dihasilkan oleh bakteri Bacillus cereus.

Dilansir laman South China Morning Post pada awal Januari, di Hong Kong, suasana di apotek dan supermarket sempat memanas saat para ibu bergegas mencari produk alternatif dan menuntut pengembalian dana. Secara medis, keberadaan toksin cereulide dalam susu bayi dianggap sebagai ancaman serius karena sifatnya yang sangat tangguh.

Dokter keluarga di Hong Kong, dr Edmund Lam Wing-wo, menjelaskan bahwa toksin tersebut memiliki ketahanan panas yang sangat tinggi. Hal ini berarti suhu air hangat yang biasa digunakan untuk menyeduh susu formula tidak akan mampu melenyapkan racun tersebut. Jika dikonsumsi oleh bayi atau balita yang sistem imunnya belum sempurna, dampak yang timbul bisa berupa muntah akut, diare, hingga kerusakan pada organ vital seperti hati dalam kasus yang lebih berat. Nestle sendiri menekankan bahwa penarikan ini bersifat pencegahan dan hingga saat ini belum ada laporan resmi mengenai jatuhnya korban sakit akibat produk tersebut.

Menanggapi gejolak ini, Ketua Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), DR dr Piprim Basarah Yanuarso, Sp.A, Subsp.Kardio(K), memberikan pernyataan untuk meredam kepanikan di Tanah Air. Menurut dia, meskipun IDAI terus memantau kabar tersebut, namun otoritas penuh dalam penyelidikan dan penarikan produk di Indonesia tetap berada di tangan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).

"Sejauh ini saya kira di Indonesia belum ada laporan serupa dengan di China. Jadi kejadiannya mungkin berbeda negara mungkin berbeda juga kasusnya ya. Tapi sejauh ini dari badan POM enggak ada warning apa-apa ya," ujarnya dalam seminar media online dengan topik "Mengenal Lebih Jauh Herpes Zooster dan Cacar pada Anak" pada Selasa (13/1/2026).

Piprim meminta masyarakat untuk tidak langsung menelan informasi mentah-mentah yang dapat memicu ketakutan berlebihan, mengingat perbedaan rantai produksi dan regulasi di setiap negara. Dokter Piprim menekankan pentingnya kewaspadaan tanpa harus mengabaikan ketenangan. 

"Jadi saya kira, mudah-mudahan, ini kita tetap waspada tapi juga jangan menimbulkan kepanikan karena kan yang kejadian di China mungkin memang berbeda dengan yang di Indonesia," kata dia.

Read Entire Article
IDX | INEWS | SINDO | Okezone |