Anggota Komisi VII DPR RI Bambang Haryo Soekartono (BHS).
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Anggota Komisi VII DPR RI Bambang Haryo Soekartono (BHS) menyampaikan apresiasinya terhadap langkah pemerintah dalam menyikapi kenaikan harga avtur hingga 70 persen hingga menyentuh Rp 23.551 per liter. Pemerintah telah memutuskan untuk menaikan fuel surcharge hingga 38 persen.
Untuk menutupi kenaikan biaya tersebut, pemerintah telah mengeluarkan kebijakan memangkas biaya PPN tiket pesawat dan meniadakan bea masuk spare part pesawat. Langkah itu untuk meringankan beban maskapai.
"Bahan bakar itu mengambil sekitar 40 persen dari total cost airline. Artinya, dengan menaikan 38 persen, artinya akan ada kenaikan 13 persen dari total cost. Dan jika ada kenaikan (harga tiket) 10-13 persen itu wajar," kata BHS di Jakarta, Senin (27/4/2026).
Anggota Fraksi Gerindra DPR itu menyebut, langkah pemerintah memangkas biaya PPN tiket dan meniadakan bea masuk suku cadang, mampu mengimbangi kenaikan biaya avtur. "PPN tiket itu kan 11 persen. Ini dari pendapatan yang, bukan dari biaya. Berarti pendapatan maskapai sudah masuk 10 persen," ucap BHS.
Apalagi, lanjut dia, jika pemerintah juga mengurangi pajak bandara (airport tax). BHS menghitung, dengan pemotongan pajak bandara sebesar 50 persen maka itu setara dengan lima persen dari total pendapatan. Sehingga pihak maskapai tak perlu lagi menaikkan harga tiket pesawat. "Karena, dengan adanya komponen-komponen di atas, pihak maskapai sudah tertutup kerugian akibat naiknya biaya avtur," ujar BHS.
Menurut dia, pemerintah pun bisa mendorong pihak pengelola bandar udara untuk melakukan pengaturan penerbangan secara lebih baik lagi, untuk menurunkan tingkat penggunaan avtur. Selama ini, kata BHS, maskapai sering dirugikan dengan kesulitan mendarat, yaitu mereka harus holding menunggu antrean landing.
"Itu itu kadang-kadang bisa 10 persen dari total lama perjalanan, sehingga bahan bakar yang mereka keluarkan itu kurang lebih 10 persen. Kita mengharapkan, pemerintah, yang mengatur air traffic control bisa lebih mempercepat proses mendarat atau landing dan take off. Tidak terjadi delay, yang menyedot bahan bakar pesawat," jelas BHS.
.png)
5 hours ago
4














































