
Oleh: Nur Hadi Ihsan Guru Besar Ilmu Tasawuf Universitas Darussalam Gontor
“في أي أرض تطا و انت مسؤول عن إسلامها”
“Di bumi mana pun engkau berpijak, engkau memikul tanggung jawab terhadap tegaknya Islam di sana.”
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ada langkah yang sekadar berpindah. Ada langkah yang membawa cahaya. Kalimat ini seakan membisikkan sesuatu yang sunyi ke dalam hati: ke mana pun kaki melangkah, di sana ada amanah yang ikut berjalan. Islam bukan benda yang disimpan rapat dalam dada, lalu selesai pada keselamatan pribadi. Islam adalah nyala yang harus menghangatkan lingkungan sekitar, meskipun kecil, meskipun perlahan.
Sering kali manusia merasa hidup hanya tentang dirinya sendiri; tentang cita-cita, masa depan, kedudukan, atau pencapaiannya sendiri. Padahal seorang mukmin memikul sesuatu yang lebih besar daripada sekadar urusan hidup pribadi. Ia membawa wajah Islam ke mana pun ia hadir. Dari sikapnya, orang lain mengenal kasih sayang. Dari lisannya, orang lain merasakan keteduhan. Dari akhlaknya, orang lain menemukan kembali harapan terhadap agama. Setiap tanah yang dipijak, diam-diam menunggu: adakah cahaya turun bersama kedatangannya, atau justru kegersangan bertambah panjang setelah ia berlalu.
Pondok dan Jiwa
Barangkali karena itulah Pondok lahir. Bukan hanya sebagai tempat belajar membaca kitab atau menghafal pelajaran, melainkan tempat menumbuhkan jiwa yang sanggup memikul amanah kehidupan. Ayat tentang liyatafaqqahu fi al-din sesungguhnya tidak berhenti pada “memahami agama”. Ada kelanjutan yang sering terasa lebih berat: kembali kepada masyarakat untuk memberi peringatan, menjaga arah, menyalakan kesadaran. Tafaqquh sejati bukan sekadar penuh kepala, tetapi jernih hati.
Di tempat seperti Gontor, seorang santri perlahan belajar memahami bahwa ilmu bukan alat untuk meninggikan diri. Ilmu adalah jalan panjang untuk melayani kehidupan. Kesederhanaan melatih hati agar tidak rakus. Pengabdian mengikis keinginan untuk selalu dipuji. Kehidupan berjamaah mengajarkan bahwa manusia tidak hidup sendiri. Semua itu tampak sederhana dari luar, tetapi sesungguhnya sedang membentuk batin agar kelak ketika kembali ke masyarakat, ia tidak datang sebagai beban, melainkan sebagai peneduh.
Mundzir yang Utuh
Menjadi mundzir al-qaum bukan berarti selalu berbicara keras tentang kebenaran. Terkadang manusia lebih tersentuh oleh akhlak daripada nasihat panjang. Imam al-Ghazali pernah menggambarkan hati manusia seperti cermin. Nafsu membuatnya keruh. Mujahadah membersihkannya sedikit demi sedikit sampai cahaya mudah memantul darinya. Dari hati yang bening itulah lahir ucapan yang menghidupkan, bukan melukai.
Dunia hari ini sebenarnya tidak hanya haus ilmu. Dunia haus ketulusan. Banyak manusia pandai berbicara, tetapi sedikit yang mampu menghadirkan ketenangan. Sebab itu Pondok sejatinya tidak sedang mencetak manusia yang sekadar fasih berdakwah. Pondok sedang menyiapkan jiwa-jiwa yang sanggup menjadi pelipur bagi zaman yang letih. Jiwa yang mampu hadir tanpa merendahkan. Mengingatkan tanpa menghakimi. Membimbing tanpa merasa paling suci.
Disclaimer: Pandangan yang disampaikan dalam tulisan di atas adalah pendapat pribadi penulisnya yang belum tentu mencerminkan sikap Republika soal isu-isu terkait.
.png)
1 hour ago
1
















































