AI dan Generasi Z, Ketika Teknologi Canggih Tak Lagi Menjamin Kemandirian Belajar

1 hour ago 1

REPUBLIKA.CO.ID, Penulis: Dedi Saputra, Dosen Program Studi Informatika Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI)

Kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) perlahan telah mengubah wajah pendidikan modern. Jika dahulu mahasiswa harus menghabiskan waktu berjam-jam di perpustakaan untuk mencari referensi, kini jawaban dapat diperoleh hanya dalam hitungan detik melalui ChatGPT atau platform AI lainnya. Teknologi menghadirkan efisiensi yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Namun di balik kemudahan itu, muncul satu pertanyaan penting yang layak direnungkan dunia, apakah mahasiswa yang mahir menggunakan AI otomatis menjadi pembelajar yang mandiri?

Pertanyaan tersebut terasa semakin relevan ketika generasi muda hari ini tumbuh di tengah banjir informasi digital. Generasi Z dikenal sebagai generasi yang paling dekat dengan internet, cepat beradaptasi dengan teknologi, multitasking, dan sangat aktif di ruang digital. Mereka terbiasa hidup dengan ritme serba cepat, instan, dan terkoneksi.

Kedekatan Dengan Teknologi tidak Selalu Melahirkan Kedalaman Berpikir

Sebuah penelitian yang menunjukkan fakta menarik sekaligus paradoksal. Optimisme terhadap teknologi, efikasi diri, dan kompetensi penggunaan AI ternyata tidak memberikan pengaruh signifikan terhadap kemampuan pembelajaran mandiri generasi Z.

Temuan ini menjadi tamparan halus bagi cara pandang pendidikan modern yang selama ini terlalu optimistis terhadap teknologi.

Selama beberapa tahun terakhir, digitalisasi pendidikan sering dipahami sebatas persoalan akses dan perangkat. Kampus berlomba menghadirkan Learning Management System, kelas daring, hingga integrasi AI dalam proses belajar. Di satu sisi, langkah ini memang membuka peluang besar untuk memperluas akses pengetahuan.

Pendidikan Sejatinya tak Hanya Berbicara tentang Kemudahan Memperoleh Jawaban

Belajar adalah proses intelektual yang membutuhkan rasa ingin tahu, disiplin, kemampuan reflektif, dan daya kritis. Semua itu tidak otomatis lahir hanya karena seseorang mampu menggunakan teknologi canggih.

Di sinilah paradoks AI mulai terlihat. Teknologi memang mempercepat pencarian informasi, tetapi dalam banyak kasus juga memperpendek proses berpikir. Mahasiswa kini dapat memperoleh ringkasan buku tanpa membaca keseluruhan isi, menyelesaikan tugas tanpa eksplorasi mendalam, bahkan membuat tulisan akademik tanpa memahami sepenuhnya substansi yang dibahas.

Read Entire Article
IDX | INEWS | SINDO | Okezone |