REPUBLIKA.CO.ID, YOGYAKARTA -- Di tengah kekhawatiran akan krisis energi fosil dan dampak perubahan iklim, mikroalga diam-diam menjadi salah satu alternatif solusi masa depan. Organisme mikroskopis yang selama ini kerap luput dari perhatian, ternyata menyimpan potensi besar termasuk sebagai sumber bahan bakar ramah lingkungan, bahkan disebut sebagai 'mesin biologis' yang mampu menopang berbagai kebutuhan industri.
Guru Besar Bidang Bioteknologi Industri dan Lingkungan Fakultas Biologi Universitas Gadjah Mada, Prof Eko Agus Suyono mengungkapkan, mikroalga memiliki keunggulan unik yang tidak dimiliki organisme lain. Dalam satu sel, mikroalga mampu menggabungkan sifat tumbuhan, bakteri, sekaligus hewan. Dengan begitu, mikroalga dapat difungsikan sebagai bio-factory atau pabrik hayati yang mampu menghasilkan berbagai produk bernilai tinggi, mulai dari pangan, pakan, obat-obatan, hingga energi alternatif.
"Dia punya karakter tanaman karena bisa fotosintesis, punya karakter bakteri karena bisa fermentasi, dan juga bisa bergerak seperti hewan. Ini yang membuat mikroalga menjadi organisme yang sangat menarik untuk dikembangkan," ujarnya saat dijumpai seusai dikukuhkan sebagai Guru Besar Bidang Bioteknologi Industri dan Lingkungan Fakultas Biologi UGM, Kamis (2/4/2026).
Salah satu potensi paling menjanjikan dari mikroalga adalah sebagai bahan bakar alternatif. Prof Eko tak menepis bahwa selama ini Indonesia masih bergantung pada biodiesel berbasis kelapa sawit.
"Mikroalga bisa digunakan untuk biodiesel, bioetanol, bahkan berkembang ke biojet dan biohidrogen. Ke depan, hidrogen ini akan menjadi salah satu energi masa depan," kata Eko.
Menariknya, Indonesia disebut sebagai salah satu hotspot keanekaragaman hayati mikroalga di dunia. Dengan wilayah perairan yang sangat luas, Prof Eko menyakini bahwa Indonesia memiliki kekayaan spesies mikroalga yang sangat besar.
"Indonesia itu sebetulnya adalah hotspotnya keanekaragaman hayati mikroalga. Hotspotnya, artinya bahwa jumlah mikro agar di Indonesia itu diduga dengan pengalaman empiris saintifik, kita itu paling kaya. Namun demikian, masalahnya eksplorasi mikroalga di Indonesia itu masih belum maksimal," ujarnya.
Dia mencontohkan dalam basis data genom internasional, kontribusi penelitian mikroalga dari Indonesia masih jauh tertinggal dibandingkan negara-negara lain seperti Amerika, Eropa, bahkan Afrika. Padahal, hasil riset yang ia lakukan bersama peneliti Jepang menunjukkan bahwa mikroalga yang diisolasi dari Indonesia memiliki kualitas yang tidak kalah, bahkan dalam beberapa aspek lebih unggul.
"Ini potensi luar biasa yang kalau tidak dimanfaatkan akan sangat disayangkan," ucap dia.
Penyelamat Lingkungan Global
Selain sebagai sumber energi, Prof Eko menjelaskan peran penting mikroalga dalam menjaga keseimbangan lingkungan. Dalam penelitiannya berjudul Mikroalga Sebagai Mesin Biologis Masa Depan: Integrasi Teknologi CO₂ Capture dan Konsep Biorefinery untuk Kemandirian Bangsa, organisme ini dikenal sangat efektif dalam menyerap karbon dioksida (CO₂), bahkan disebut lebih efisien dibandingkan tanaman darat.
Tak hanya itu, mikroalga juga menyumbang sekitar 40–50 persen produksi oksigen di atmosfer bumi. Artinya, hampir separuh oksigen yang dihirup manusia berasal dari aktivitas fotosintesis mikroalga di perairan. Fakta ini sekaligus menegaskan bahwa perairan memiliki peran krusial sebagai 'paru-paru' dunia.
"Mikroalga itu penangkap CO₂ yang sangat kuat. Bahkan kemampuan menyerap karbonnya bisa lebih tinggi daripada tanaman darat," katanya.
Potensi mikroalga pun tidak berhenti pada energi dan lingkungan. Prof Eko mengatakan kandungan nutrisinya yang tinggi menjadikannya bahan potensial untuk pangan dan pakan fungsional. Mikroalga disebutnya kaya akan protein, vitamin, mineral, serta antioksidan yang bahkan lebih tinggi dari vitamin C. Sedangkan dalam bidang peternakan, mikroalga juga terbukti mampu meningkatkan kualitas produk ternak, seperti menghasilkan telur rendah kolesterol.
Sementra itu, pada bidang kesehatan, mikroalga juga berpotensi dikembangkan menjadi bahan baku obat, antivirus, hingga kosmetik. Bahkan, teknologi pemanfaatannya kini mulai terintegrasi dengan sistem digital seperti Internet of Things (IoT) dan machine learning untuk meningkatkan efisiensi produksi. Tak hanya itu, dalam proses metabolismenya, mikroalga bahkan mampu menghasilkan bioelectricity atau listrik, meski saat ini masih dalam skala kecil.
Potensi ini membuka peluang lahirnya sumber energi baru yang tidak bergantung pada pembakaran bahan bakar fosil.
"Kita tidak bisa bergantung pada bahan bakar fosil. Karena itu akan habis. Apalagi bahan bakar fosil saat ini rentan dengan konflik kan. Sekarang ini kan kita kesulitan bahan bakar karena Selat Hormuz ditutup sama Iran. Kemudian orang bertengkar untuk mencari hanya masalah minyak gitu. Sehingga kita harus mencari cara atu alternatif lain. Kalau menggantikan memang butuh waktu," ungkapnya.
Sebagai bioremediasi, mikroalga juga dapat digunakan untuk menyerap limbah lingkungan. Hal ini karena adaptasi mikroalga yang tinggi terhadap berbagai macam kondisi lingkungan, enzim dan senyawa kimia yang dihasilkan, dan juga komponen kimia yang terdapat di dinding sel mikroalga tersebut. Tak hanya itu, mikroalga pun dapat dintegrasikan dengan Internet of Things (IoT) dan machine learning.
"Dalam konteks ini, IoT menjadi terobosan karena memungkinkan pemantauan biomassa dan parameter budidaya secara kontinu dan real-time, lalu menyiapkan aliran data yang siap diolah menjadi informasi operasional," katanya.
Meski demikian, Eko mengakui bahwa secara ekonomi, pemanfaatan mikroalga masih belum kompetitif termasuk sebagai bahan bakar. Teknologi yang ada saat ini masih dalam tahap pengembangan dan membutuhkan investasi besar.
Prof Eko juga menyoroti, pengembangan mikroalga di Indonesia yang masih menghadapi berbagai tantangan, mulai dari keterbatasan jumlah peneliti hingga minimnya industri berbasis mikroalga. Eko menyebut, lebih dari 90 persen industri mikroalga dunia saat ini masih terpusat di Cina. Hal ini menjadi tantangan sekaligus peluang bagi Indonesia untuk mengejar ketertinggalan.
Dia pun mengajak para peneliti, mahasiswa, dan pemerintah untuk lebih serius mengembangkan potensi ini.
"Kita punya sumber daya yang luar biasa. Tinggal bagaimana kita mengoptimalkannya. Kalau tidak, kita hanya akan jadi penonton," ujarnya.
Menurutnya, pengembangan mikroalga harus dilakukan secara konsisten dan terintegrasi dari hulu hingga hilir, mulai dari riset dasar hingga komersialisasi.
"Untuk saat ini memang belum ekonomis, tetapi potensinya ada. Ketika cadangan minyak bumi semakin menipis, kita tidak punya pilihan selain mengembangkan alternatif, salah satunya mikroalga," ujarnya.
Di akhir, Prof Eko mengatakan, melalui pendekatan yang terintegrasi, mikroalga dapat menjadi jembatan antara kepentingan lingkungan, kebutuhan industri, dan agenda pembangunan berkelanjutan. Namun, hal ini haruslah didukung oleh seluruh pihak. Karena itu, riset mikroalga perlu terus diperkuat dari hulu hingga hilir.
"Mulai dari eksplorasi strain unggul dan bioprospeksinya, optimasi kultivasi dan pemanenan dari skala laboratorium dan pilot sampai massal di industri, hingga inovasi teknologi pemrosesan dan pemanfaatannya. Mikroalga berpotensi sebagai solusi masa depan demi ketahanan lingkungan, kemandirian teknologi, dan kemajuan bangsa," ujarnya.
.png)
9 hours ago
1

















































