REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Belum genap pukul sepuluh pagi, antrean kendaraan di pintu masuk Tol Tangerang arah Merak sudah mengular ratusan meter. Di bawah terik matahari yang mulai menyengat, para pemudik duduk sabar di balik kemudi, sebagian memanjangkan leher memandang ke depan, sebagian lagi memilih memejamkan mata sambil menunggu.
Di antara deru mesin dan aroma asap kendaraan, terdengar tawa anak-anak dari kursi belakang, suara mereka riang tidak peduli pada lamanya perjalanan. Itulah wajah mudik, ritual tahunan yang, betapapun melelahkannya, tidak pernah benar-benar membuat orang kapok.
Mudik Lebaran tahun ini bukan sekadar pergerakan massa. Ia adalah peristiwa nasional yang melibatkan hampir separuh penduduk Indonesia dalam satu gerak serentak menuju kampung halaman. Badan Kebijakan Transportasi Kementerian Perhubungan memprediksikan sebanyak 143,92 juta orang, atau sekitar 50,6 persen dari seluruh penduduk Indonesia, berencana melakukan perjalanan selama periode libur Idul Fitri 1447 H ini.
Angka tersebut mungkin bahkan masih konservatif, karena Wakil Menteri Perhubungan Suntana meyakini realisasi di lapangan akan melampaui proyeksi survei. Pada tahun sebelumnya, angka realisasi mencapai 154 juta orang, jauh melewati prediksi awal 146 juta. Rindu rupanya selalu lebih besar dari perkiraan.
Kekhasan Mudik Tahun ini
Yang membedakan mudik tahun ini dari tahun-tahun sebelumnya adalah pola pergerakannya yang terbagi dalam dua gelombang. Gelombang pertama diperkirakan berlangsung pada 14 hingga 15 Maret, sementara gelombang kedua terjadi beberapa hari setelahnya, yakni pada 18 hingga 19 Maret 2026. Pembelahan arus ini bukan kebetulan, melainkan buah dari kebijakan yang dirancang dengan cermat.
Pemerintah menerapkan kebijakan Work From Anywhere, atau WFA, pada 16 dan 17 Maret untuk arus mudik, serta 25 dan 26 Maret untuk arus balik, setelah mendapat persetujuan dari Presiden dan Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi.
Kebijakan ini pada dasarnya memberikan jeda napas di antara dua puncak kepadatan, memberi ruang bagi jutaan aparatur sipil negara dan pekerja swasta yang fleksibel untuk memulai perjalanan tanpa harus berhimpitan di hari yang sama. Pemerintah juga mengaktifkan posko selama 18 hari, dari 13 hingga 30 Maret 2026, untuk memastikan koordinasi lintas moda transportasi berjalan optimal.
Di Jawa Barat, strategi dua gelombang ini mendapat respons serius dari aparat keamanan. Puncak arus balik diprediksi jatuh pada H+6 atau Jumat, 27 Maret 2026, dan pergerakan massa ini bertepatan pula dengan libur Hari Raya Nyepi pada 19 Maret serta cuti bersama Nyepi pada 20 Maret.
Faktor Nyepi inilah yang secara tidak langsung mendorong sebagian pemudik berangkat lebih awal, sehingga membentuk gelombang pertama yang cukup signifikan. Dua hari besar bertemu dalam satu pekan, dan arus manusia pun mengalir lebih deras dari biasanya.
sumber : Antara
.png)
3 hours ago
2














































