REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Kemunculan maket rudal balistik FP-9 dalam pameran Road to URC (Ukraine Recovery Conference) – Security and Defense Dimension di Rzeszów, Polandia, bukan sekadar presentasi teknologi. Ia merupakan sinyal strategis bahwa Ukraina tengah mendorong lompatan baru dalam kemampuan serangan jarak jauh, sebuah domain yang selama ini didominasi oleh Rusia.
Berkat penempatan maket FP-9 berdampingan dengan FP-7, kini dimungkinkan untuk memperkirakan dimensi rudal tersebut dengan lebih presisi. Jika FP-7 memang berbasis badan rudal 48N6 dari sistem S-400, yang memiliki panjang sekitar 7,5 meter dan diameter 0,52 meter, maka FP-9 tampak mengalami lonjakan ukuran yang signifikan. Estimasi visual menunjukkan panjangnya mendekati 9,5 meter dengan diameter maksimum sekitar 1,1 meter, menjadikannya salah satu rudal balistik taktis terbesar dalam kelasnya.
Dimensi ini secara langsung menempatkan FP-9 di atas sistem rudal balistik Rusia 9M723 Iskander, yang selama ini menjadi tulang punggung serangan presisi jarak menengah Moskow, dengan panjang sekitar 7,2 meter dan diameter 0,95 meter. Keunggulan ukuran ini bukan sekadar kosmetik. Dalam doktrin rudal balistik, volume badan rudal berkorelasi langsung dengan kapasitas bahan bakar, stabilitas lintasan, serta bobot hulu ledak yang dapat dibawa.
Dengan spesifikasi yang diklaim, jangkauan hingga 855 kilometer dan hulu ledak seberat 800 kilogram, FP-9 mengarah pada profil rudal balistik jarak menengah yang mampu memberikan efek destruktif signifikan terhadap target strategis. Dalam konteks operasional, jangkauan tersebut cukup untuk menjangkau wilayah Moskow dari garis depan konflik, sebuah faktor yang secara langsung mengubah kalkulasi keamanan Rusia.
Jangkauan ini sudah pernah dijelaskan dalam laporan Reuters. FP-9 memang disebut jadi andalan baru Ukraina, meski baru dalam perencanaan.
Jika dibandingkan dengan ATACMS milik Amerika Serikat yang relatif kompak, sekitar 4 meter panjang dan diameter 0,61 meter, FP-9 jelas berada dalam kelas yang berbeda. Ia tidak dirancang sebagai rudal taktis ringan, melainkan sebagai platform serangan berat dengan daya hancur tinggi dan jangkauan yang memperluas kedalaman serangan, sebagaimana diberitakan Media Ukraina, Defence Express.
Menariknya, dimensi FP-9 juga mendekati proyek rudal Ukraina lainnya, Hrim-2 atau Sapsan, yang sebelumnya dikembangkan sebagai sistem balistik nasional. Namun, dalam konteks FP-9, skala dan pendekatan desainnya menunjukkan upaya untuk menciptakan sistem yang tidak hanya setara, tetapi berpotensi melampaui kemampuan yang ada di kawasan.
Perkembangan ini tidak bisa dilepaskan dari dinamika perang modern yang semakin menempatkan rudal balistik jarak jauh sebagai instrumen utama proyeksi kekuatan. Konflik di Ukraina sendiri telah menunjukkan bagaimana sistem seperti Iskander digunakan untuk menyerang infrastruktur kritis, pusat logistik, hingga fasilitas energi dalam jarak ratusan kilometer dari garis depan.
.png)
3 hours ago
2
















































