Empat Saham Bank Besar Lanjut Pesta, BMRI dan BBNI Melonjak Lebih dari 7 Persen

1 week ago 11

Empat saham perbankan kakap kembali menguat pada Rabu (26/3/2025), melanjutkan kenaikan sehari sebelumnya.

 Freepik)

Empat Saham Bank Besar Lanjut Pesta, BMRI dan BBNI Melonjak Lebih dari 7 Persen. (Foto: Freepik)

IDXChannel – Empat saham perbankan kakap kembali menguat pada Rabu (26/3/2025), melanjutkan kenaikan sehari sebelumnya, seiring kabar pembagian dividen dan aksi buyback (pembelian kembali) saham.

Menurut data Bursa Efek Indonesia (BEI), pukul 09.45 WIB, saham PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) melonjak 7,59 persen ke Rp5.100 per unit.

Diwartakan sebelumnya, Bank Mandiri akan membagikan dividen tunai senilai Rp43,51 triliun atau Rp466,18 per saham, setara 78 persen dari laba bersih 2024 yang mencapai Rp55,78 triliun.

Imbal hasil dividen (dividend yield) BMRI kali ini terbilang menggiurkan, yakni mencapai 9,19 persen.

"Bank Mandiri sepakat membagikan dividen tunai tahun buku 2024 sebesar Rp43,51 triliun atau Rp466,18 per saham," ujar Darmawan dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST), Selasa (25/3/2025).

Untuk tahun buku 2023, Bank Mandiri (BMRI) menetapkan dividen sebesar 60 persen dari laba bersih, atau senilai Rp33,03 triliun.

Sepanjang 2024, laba bersih Bank Mandiri tumbuh 1,31 persen secara tahunan (yoy) menjadi Rp55,78 triliun dari Rp55,06 triliun pada 2023.

Bank pelat merah ini berkomitmen untuk membagikan keuntungan kepada investor dalam bentuk dividen. Dalam lima tahun terakhir, BMRI menjaga rasio dividen (DPR) di level 60 persen.

RUPST BMRI juga menyetujui rencana pembelian kembali (buyback) saham senilai Rp1,17 triliun.

Kemudian, saham PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) meningkat 7,44 persen. Investor juga menantikan hasil RUPST BBNI yang digelar hari ini, Rabu (26/3/2025).

Selain itu, saham PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) terkerek 5,00 persen ke Rp3.940 per unit.

Dalam RUPST pada Senin (24/3/2025), BBRI menyetujui pembagian dividen dengan total Rp51,74 triliun kepada para pemegang saham. Jumlah ini setara dengan 85 persen dari laba bersih tahun buku 2024. Tahun lalu, BRI membukukan laba bersih konsolidasi sebesar Rp60,64 triliun.

Sebelumnya, BRI telah membagikan dividen interim senilai Rp20,46 triliun atau Rp135 per saham pada 15 Januari 2025. Dengan demikian, dividen final yang akan dibagikan mencapai Rp208,40 per saham atau setara dengan imbal hasil (yield) 5,77 persen.

Keputusan ini membuat total dividen per saham BRI tahun ini menjadi Rp345.

Saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) juga melejit, yakni sebesar 5,90 persen ke Rp8.550 per unit.

BBCA juga membagikan dividen tunai, yakni sebesar Rp250 per saham, dengan total nilai mencapai Rp30,81 triliun. Keputusan ini disepakati dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) yang digelar pada Rabu (12/3/2025).

Dividen tersebut merupakan bagian dari total dividen tunai untuk tahun buku 2024 yang mencapai Rp36,98 triliun atau Rp300 per saham. Sebelumnya, BCA telah membayarkan dividen interim sebesar Rp50 per saham atau setara Rp6,16 triliun kepada pemegang saham pada 11 Desember 2024.

Likuiditas Stabil

Kendati tengah mengalami pemulihan dalam jangka pendek, saham perbankan utama Indonesia menghadapi tekanan jual, imbas aksi lego investor asing, sejak  tahun lalu akibat berbagai faktor, salah satunya kekhawatiran atas likuiditas dan biaya dana (funding cost).

Namun, analis Verdhana Sekuritas dalam risetnya tertanggal 24 Maret 2025 menilai bahwa prospek likuiditas kini mulai membaik, didukung oleh langkah Bank Indonesia (BI) dalam menurunkan suku bunga Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) serta mengurangi penerbitannya.

Saat ini, suku bunga SRBI blended telah turun ke 6,38 persen dari puncaknya di 7,48 persen pada Juli 2024. Kebijakan BI ini membantu menstabilkan biaya dana di bank-bank besar, yang berpotensi menjaga margin bunga bersih (NIM) tetap solid dan mengurangi risiko penurunan laba akibat margin yang menyusut.

Lebih lanjut, kata Verdhana, penurunan suku bunga SRBI juga mengurangi insentif arbitrase terhadap suku bunga repo yang kini berada di 6,50 persen. Hal ini membuka peluang bagi BI untuk menurunkan penerbitan SRBI lebih lanjut serta memangkas suku bunga acuan yang saat ini berada di 5,75 persen.

Selain itu, ada potensi pemangkasan rasio giro wajib minimum (GWM) dari sekitar 6–7 persen menjadi 3–4 persen bagi bank-bank besar. Jika ini terealisasi, menurut Verdhana, tambahan likuiditas yang masuk ke sistem perbankan dapat menjadi katalis positif bagi saham perbankan.

Dengan berbagai faktor tersebut, Verdhana Sekuritas meyakini sektor perbankan Indonesia tetap tangguh secara fundamental.

“Di sektor ini, bank-bank besar tetap menjadi pilihan utama. Rekomendasi utama kami adalah BMRI, BRIS, dan BBCA,” kata analis Verdhana. (Aldo Fernando)

Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.

Read Entire Article
IDX | INEWS | SINDO | Okezone |