Ekonomi Tanpa Gravitasi: Ketika Sistem Kehilangan Pusat Massanya

1 hour ago 1

Oleh : Anang Fahmi, Pusdiklat BAZNAS RI, Dosen UIN Prof KH Saifuddin Zuhri Purwokerto

REPUBLIKA.CO.ID, Proyeksi UNCTAD (United Nations Trade and Development) menunjukkan pertumbuhan ekonomi dunia hanya 2,6% di 2025-2026, jauh di bawah rata-rata pra-pandemi. Inflasi merangkak, PHK meningkat, perang dagang menguat. Ini bukan sekadar fluktuasi ekonomi biasa. Ini gejala sistem yang kehilangan pusat gravitasinya.

Dalam fisika, tata surya kita stabil karena ada pusat gravitasi—Matahari. Planet-planet mengorbit dalam keseimbangan antara gaya sentripetal (gravitasi Matahari) dan gaya sentrifugal (kecenderungan bergerak lurus). Keseimbangan ini menciptakan orbit yang stabil, prediktabel, berkelanjutan.

Bayangkan jika tiba-tiba Matahari hilang. Tidak ada lagi pusat gravitasi. Planet-planet akan bergerak lurus keluar angkasa—masing-masing ke arahnya sendiri. Sistem tata surya runtuh. Kekacauan total. Ekonomi global saat ini seperti tata surya tanpa matahari.

Kapitalisme: Gaya Sentrifugal Tanpa Sentripetal

Kapitalisme dan liberalisme ekonomi yang diagung-agungkan ratusan tahun ternyata hanya menciptakan gaya sentrifugal—kecenderungan setiap "planet" (negara, korporasi, individu) untuk bergerak menjauh dari pusat, mengejar kepentingannya sendiri tanpa batas.

Tanpa ada gaya sentripetal yang menarik kembali ke pusat (nilai etika, keadilan, kemanusiaan), sistem ini menciptakan orbiting yang makin liar. Negara adidaya menjarah sumber daya negara lemah. Korporasi mengejar profit tanpa peduli lingkungan atau pekerja. Bank menerapkan riba yang mengisap darah ekonomi rakyat kecil.

Dalam terminologi fisika: sistem kehilangan gaya pemulih (restoring force). Ketika bandul berayun terlalu jauh, seharusnya ada gaya yang menariknya kembali ke titik keseimbangan. Tapi dalam ekonomi sekuler-materialistis, tidak ada gaya pemulih. Yang ada hanya akselerasi menjauh dari keseimbangan.

Entropi Ekonomi: Menuju Kekacauan Maksimal

Hukum termodinamika kedua menyatakan entropi (kekacauan) dalam sistem tertutup selalu meningkat. Tanpa input energi eksternal yang teratur, sistem akan menuju kekacauan maksimal.

Ekonomi global tanpa nilai-nilai ilahi (agama) adalah sistem tertutup yang entropinya terus meningkat. Ketimpangan makin lebar—yang kaya makin kaya, yang miskin makin miskin. Krisis finansial makin sering dan parah. Perang dagang menciptakan friksi yang menghabiskan energi sia-sia.

Semua ini adalah tanda entropi ekonomi yang meledak. Kekacauan yang tak terelakkan ketika sistem hanya digerakkan oleh kepentingan material-rasional tanpa ada prinsip pengatur yang lebih tinggi (nilai etika, moral, kemanusiaan, maqashid syariah).

ROI Sebagai Satu-satunya Vektor: Kehilangan Dimensi

Dalam fisika, kita bekerja dengan vektor—besaran yang punya arah dan nilai. Kecepatan bukan hanya seberapa cepat, tapi ke mana. Gaya bukan hanya seberapa besar, tapi menuju apa.

Ekonomi konvensional mereduksi semua keputusan menjadi satu vektor: ROI (Return on Investment). Satu dimensi. Satu arah: profit. Halal-haram diabaikan. Dampak sosial diabaikan. Keberlanjutan lingkungan diabaikan. Yang penting angka ROI positif.

Ini seperti navigasi kapal hanya berdasarkan kecepatan, tanpa peduli arah. Hasilnya? Kapal melaju kencang—menuju karang dan karam.

Resonansi Destruktif: Getaran yang Meruntuhkan

Ada fenomena fisika bernama resonansi destruktif. Jembatan Tacoma Narrows runtuh tahun 1940 karena angin menciptakan getaran dengan frekuensi yang tepat, mengamplifikasi ayunan hingga struktur tidak tahan.

Ekonomi global saat ini mengalami resonansi destruktif. Inflasi naik → bank naikkan suku bunga → daya beli turun → PHK meningkat → konsumsi turun → ekonomi melambat → perusahaan potong biaya → lebih banyak PHK. Siklus ini resonan—saling memperkuat hingga sistem kolaps.

Perang dagang menambah frekuensi destruktif lain. Tarif naik → harga naik → inflasi naik → suku bunga naik—kembali ke siklus pertama. Dua gelombang destruktif yang beresonansi, menggoyang pondasi ekonomi global.

Mencari Pusat Gravitasi Baru

Solusinya bukan tambalan teknis—turunkan suku bunga sedikit, beri stimulus fiskal, atau proteksi perdagangan. Itu seperti mendorong planet yang sudah melenceng agar kembali ke orbit, tanpa menyediakan matahari.

Yang dibutuhkan adalah rekonstruksi pusat gravitasi: sistem ekonomi yang berbasis nilai-nilai etika, keadilan, keseimbangan, dan kemanusiaan. Dalam istilah Islam: maqashid syariah—tujuan mulia dari hukum ilahi.

Pusat gravitasi ini akan menciptakan gaya sentripetal yang menarik semua aktivitas ekonomi kembali ke orbit keseimbangan. Profit boleh dikejar, tapi dalam koridor halal. Pertumbuhan boleh ditargetkan, tapi berkelanjutan. Kompetisi boleh ada, tapi tidak menghancurkan yang lemah.

Pilihan di Persimpangan

UNCTAD memproyeksikan pertumbuhan lemot 2,6%. Itu bukan nasib yang tak terelakkan. Itu konsekuensi logis dari sistem tanpa pusat gravitasi.

Kita di persimpangan: terus melaju dengan sistem destruktif berbungkus halusinasi kesejahteraan, atau berani membangun pusat gravitasi baru?

Fisika tidak berbohong. Sistem tanpa gaya pemulih akan kolaps. Hanya soal waktu.

Read Entire Article
IDX | INEWS | SINDO | Okezone |