Pertemuan Dubes Iran dengan sejumlah tokoh Islam di kawasan Pondok Labu, Jakarta Selatan, Jumat (3/4/2026).
REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA — Duta Besar Republik Islam Iran untuk Indonesia, Mohammad Boroujerdi menegaskan, Iran tidak pernah menjadi pihak yang memulai konflik bersenjata. Jika melihat sejarah dalam beberapa ratus tahun terakhir, kata dia, Iran tidak memiliki catatan sebagai negara yang memulai perang.
“Kalau kita melihat sejarah juga bahwa dalam beberapa ratus tahun terakhir ini Iran tidak pernah memulai untuk berperang. Namun sebaliknya, rezim Zionis yang usianya baru puluhan tahun justru telah memulai banyak peperangan,”kata dia saat bertemu dengan sejumlah tokoh Islam di kawasan Pondok Labu, Jakarta Selatan, Jumat (3/4/2026).
Menurut dia, dalam kurun waktu tersebut, Israel telah terlibat dan memulai sekitar 20 perang besar. Ia juga menuding rezim Zionis bersikap represif terhadap berbagai kelompok agama.
“Rezim Zionis ini menentang seluruh agama. Mereka menentang Islam, Kristen, bahkan Yahudi non-Zionis. Umat Islam tidak diizinkan beribadah di Masjidil Aqsa, umat Nasrani juga mengalami pembatasan di gereja, bahkan Yahudi non-Zionis pun tidak sepenuhnya bebas,”kata dia.
Sebaliknya, Boroujerdi mencontohkan kondisi di Iran memberikan ruang bagi kelompok minoritas, termasuk komunitas Yahudi. Ia mengatakan, komunitas Yahudi di Iran tetap eksis dan bahkan memiliki perwakilan di parlemen meski jumlahnya kecil.
“Di Iran sendiri untuk komunitas Yahudi yang jumlahnya juga dibandingkan dengan Islam tidak ada, tidak ada, sangat kecil sekali, namun diberikan keleluasaan untuk memiliki perwakilan di parlemen,” katanya.
Ia pun menyinggung eskalasi konflik yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran. Ia mengajak umat Islam untuk bersikap tegas dalam menyikapi konflik tersebut.“Kita akan ditanya oleh generasi mendatang, kita berada di pihak mana. Apakah membela Amerika dan Israel atau mendukung Iran?”kata dia.
.png)
4 hours ago
1

















































