Dolar AS Terus Melemah, Sentimen 'Sell America' Kembali Menguat

3 hours ago 2

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Nilai dolar Amerika Serikat (AS) melanjutkan pelemahan untuk hari kedua berturut-turut pada perdagangan Asia, Selasa (20/1/2026), seiring kembali menguatnya sentimen “Sell America” akibat ketegangan geopolitik. Tekanan terhadap dolar muncul setelah pernyataan Gedung Putih terkait masa depan Greenland memicu aksi jual luas pada saham dan obligasi pemerintah AS.

Indeks dolar, yang mengukur kekuatan dolar terhadap enam mata uang utama dunia, turun hingga 0,2 persen ke level 98,891, terendah sejak 13 Januari, di tengah kekhawatiran investor terhadap eksposur aset AS.

Pada Senin, ancaman tarif terbaru Presiden AS Donald Trump terhadap sekutu-sekutu Eropa memicu kembali fenomena “Sell America” yang pertama kali mencuat setelah pengumuman tarif Liberation Day pada April tahun lalu. Dalam kondisi tersebut, saham, obligasi Treasury, dan dolar sama-sama melemah. Pasar keuangan AS kembali dibuka pada Selasa setelah libur Hari Martin Luther King Jr.

“Investor melepas aset dolar karena kekhawatiran terhadap ketidakpastian berkepanjangan, hubungan aliansi yang menegang, turunnya kepercayaan terhadap kepemimpinan AS, potensi pembalasan, serta percepatan tren de-dolarisasi,” kata analis pasar IG di Sydney, Tony Sycamore.

Ia menambahkan, meski terdapat harapan pemerintah AS akan meredakan ketegangan seperti pada pengumuman tarif sebelumnya, upaya mengamankan Greenland tetap menjadi tujuan keamanan nasional utama pemerintahan saat ini.

Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun tercatat naik 3 basis poin menjadi 4,2586 persen. Kontrak berjangka Fed funds memperkirakan peluang sebesar 95 persen bahwa bank sentral AS akan mempertahankan suku bunga acuannya pada pertemuan dua hari pekan depan, relatif tidak berubah dari Jumat lalu, berdasarkan FedWatch Tool milik CME Group.

Nilai tukar euro menguat 0,1 persen ke level 1,1658 dolar AS, sementara pound sterling naik 0,1 persen menjadi 1,3437 dolar AS.

“Pasar masih meragukan implementasi tarif,” tulis analis OCBC dalam catatan riset. “Untuk saat ini, potensi arus de-dolarisasi lebih besar dibandingkan dampak negatif terhadap euro dan pound akibat potensi penurunan pertumbuhan Zona Euro dan Inggris jika tarif Trump benar-benar diterapkan.”

sumber : REUTERS

Read Entire Article
IDX | INEWS | SINDO | Okezone |