REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Senja belum benar-benar turun ketika ribuan orang telah memadati halaman Pondok Modern Tazakka. Langit Batang berwarna keemasan, angin membawa harum tanah dan suara salam yang saling bersahutan.
Di antara derap langkah para santri dan tamu undangan, terselip satu pertanyaan yang diam-diam menggantung di udara: bagaimana mungkin sebuah pesantren di sudut Jawa Tengah mampu menghadirkan lautan manusia, mempertemukan pejabat negara, ulama, dan masyarakat kecil dalam satu hamparan sajadah yang sama?
Jawabannya perlahan terurai pada Sabtu, 1 Maret itu. Silaturahim Akbar, Buka Puasa Ramadhan, dan Tarawih bersama 5.000 muslimin bukan sekadar agenda tahunan. Ia menjelma peristiwa kebersamaan, ruang temu yang meniadakan sekat profesi, jabatan, dan latar belakang.
Dari ulama, habaib, rektor perguruan tinggi, pimpinan ormas Islam, hingga guru madrasah dan TPQ, santri, walisantri, dan masyarakat umum, semua duduk bersisian. Pemerintah hadir, TNI-Polri hadir, masyarakat hadir. Seperti sungai-sungai kecil yang bermuara pada satu samudra ukhuwah.
Di barisan tamu tampak Zulkifli Hasan, Sudaryono, dan Bupati Batang Faiz Kurniawan. Hadir pula Direktur Liga Muslim Dunia Syekh Abdul Rahman Al-Khoyyat, para tokoh legislatif daerah, serta jejaring filantropi seperti ASFA Foundation. Namun sore itu, sorotan bukan semata pada nama-nama besar. Sorotan justru mengarah pada denyut empati yang mengalir di antara mereka.
Pimpinan Tazakka, KH. Anang Rikza, menegaskan bahwa perhelatan Ramadhan ini adalah momentum silaturahim akbar umat Islam, ruang menguatkan nilai keislaman dan keindonesiaan sekaligus. “Lintas profesi, lintas ormas, semua hadir. Ini menunjukkan Indonesia dalam keadaan baik dan persatuan yang kuat,” ujarnya. Kalimat itu tidak melangit; ia membumi pada wajah-wajah yang saling menyapa dengan tulus.
Dalam suasana yang hangat, para pejabat negara berbicara tentang swasembada pangan, tentang arah kebijakan nasional, tentang komitmen membangun Indonesia. Prabowo Subianto disebut sebagai pemimpin dengan program pro-rakyat dan visi yang jelas. Namun di sela pidato-pidato itu, pesan yang paling mengendap justru sederhana: tetap guyup, tetap bersatu, tetap ambil bagian memajukan bangsa. Di situlah makna terdalam acara ini menemukan bentuknya.
Tazakka tidak hanya menggelar sajadah dan mimbar, tetapi juga membentangkan tangan. Sebanyak 1.750 paket sembako dibagikan kepada fakir miskin, guru ngaji, asatidz, imam khotib, marbot masjid, hingga penyandang disabilitas. Angka itu bukan sekadar statistik; ia adalah wajah-wajah yang pulang dengan senyum lebih ringan, dapur yang kembali mengepul, dan doa-doa yang terangkat di antara takbir dan tadarus.
Filantropi Islam di sini tidak tampil sebagai retorika, melainkan sebagai kerja nyata. Ia menguatkan empati, karena yang memberi belajar merasakan denyut kebutuhan yang menerima. Ia mengukuhkan ukhuwah, karena tangan yang di atas dan di bawah sama-sama terikat dalam niat ibadah. Dan lebih dari itu, ia merekatkan persatuan, karena bantuan tidak bertanya asal golongan, melainkan menjawab panggilan kemanusiaan.
Program pemeriksaan kesehatan gratis dan donor darah yang didukung Dinas Kesehatan, IDI, PMI, BSMI, dan berbagai pihak lainnya semakin menegaskan bahwa Ramadhan bukan hanya tentang menahan lapar, tetapi juga tentang menghidupkan kepedulian sosial. Antusiasme masyarakat yang mengantre sejak sore menjadi bukti bahwa kebaikan, ketika difasilitasi, selalu menemukan jalannya.
.png)
2 days ago
8















































