Dari Adam ke Muhammad: Menelusuri Nasab Suci yang Menggetarkan Sejarah

1 day ago 4

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Langit sejarah seakan terbentang panjang ketika nama Muhammad disebut. Ia bukan sekadar penutup para nabi, tetapi simpul dari mata rantai panjang kemanusiaan, sebuah garis nasab yang menjulur jauh, melintasi zaman, melewati para nabi, dan berujung pada manusia pertama: Adam.

Kisah itu tidak dimulai di Makkah, bukan pula di Jazirah Arab. Ia bermula dari tanah pertama yang disentuh kaki manusia, ketika Adam diturunkan ke bumi, membawa amanah sebagai khalifah. Dari dirinya, sejarah manusia bergerak, generasi demi generasi lahir, dan di antara mereka muncul para nabi yang menjaga cahaya tauhid agar tidak padam oleh zaman.

Berabad-abad kemudian, cahaya itu menemukan jalannya melalui Nabi Ibrahim. Sosok yang dikenal sebagai Khalilullah ini bukan hanya pembawa tauhid, tetapi juga penanam akar bagi satu garis keturunan yang kelak akan mengubah dunia. Dari Ibrahim lahirlah Ismail, anak yang dibesarkan di tanah tandus Makkah, di lembah yang saat itu sunyi, jauh dari hiruk peradaban, sebagaimana ditulis Ibnu Hisyam dalam Sirah Nabawiyahnya.

Namun justru dari kesunyian itulah sejarah besar disiapkan.

Ismail tumbuh, menikah, dan dari keturunannya lahirlah bangsa Arab. Mereka berkembang menjadi kabilah-kabilah yang menyebar, membawa budaya, bahasa, dan tradisi yang kelak menjadi wadah bagi risalah terakhir.

Dalam riwayat para ahli nasab, dari garis Ismail inilah kemudian muncul Adnan, tokoh penting yang menjadi titik temu bagi banyak kabilah Arab utara. Dari Adnan, garis itu terus mengalir hingga mencapai Quraisy, suku yang kelak menjadi penjaga Ka’bah dan pusat spiritual bangsa Arab.

Di titik inilah sejarah mulai terasa semakin dekat.

Quraisy bukan sekadar suku. Ia adalah jantung Makkah, kota yang sejak lama menjadi pusat ziarah dan perdagangan. Namun di balik gemerlapnya, Makkah juga menyimpan paradoks: Ka’bah yang dibangun atas nama tauhid justru dikelilingi berhala. Warisan Ibrahim seakan terbungkus oleh kabut kemusyrikan.

Tetapi garis nasab itu tetap berjalan, seolah menunggu satu momen yang telah dijanjikan.

Dari Quraisy, lahirlah Abdul Muththalib, tokoh terhormat yang menjaga martabat Ka’bah. Dari dirinya lahir Abdullah, seorang lelaki yang dikenal bersih dan mulia. Dan dari Abdullah, lahirlah seorang anak yatim yang kelak mengguncang dunia: Muhammad.

Di sinilah seluruh mata rantai itu bertemu.

Read Entire Article
IDX | INEWS | SINDO | Okezone |