Cuan dan Tudingan Premanisme di Perlintasan Sebidang Bekasi Timur

3 hours ago 2

Oleh Muhammad Noor Alfian Choir, Ahmad Fikri Noor

REPUBLIKA.CO.ID, BEKASI -- Kendaraan bermotor masih tampak ramai di perlintasan sebidang di Jalan Ampera, Bekasi Timur, pada Selasa (28/4/2026) siang itu. Sepeda roda dua, truk boks, sampai pejalan kaki berdesak-desakan di sepetak jalan yang tak sebegitu lebar itu. 

Lewat kereta api jarak jauh, hanya di satu sisi portal dari bambu yang sudah reyot diturunkan. Di sisi lainnya, tak ada penghalang antara ramai kendaraan dengan kereta yang melintas.

Hanya teriakan penjaga yang menghentikan para pengendara. "Awas mundur," teriak para penjaga palang. Kereta lewat, arus kendaraan kembali mengalir deras melindas rel kereta menuju sisi seberang dari Jalan Ir H Juanda menuju Durenjaya dan sebaliknya.

Nyaris tak ada tanda-tanda bahwa di lokasi itu, pada Senin malam, terjadi insiden yang ujungnya adalah kematian belasan perempuan perempuan penumpang KRL commuter line di Stasiun Bekasi Timur akibat gerbong mereka diseruduk kereta jarak jauh dari arah Jakarta.

Sekitar pukul 20.50 malam itu, mobil taksi Green MS terhenti di tengah perlintasan itu. Mobil itu ditabrak KRL dari arah Cikarang menuju Jakarta. Onggokan kendaraan terlihat ringsek sekitar 50 meter dari perlintasan sebidang ke arah stasiun.

Insiden tabrakan itu membuat KRL dari Jakarta di Stasiun Bekasi Biru tak bisa maju dan akhirnya ditemper kereta jarak jauh dari arah belakang. Dua gerbong belakang seperti ditembus kereta jarak jauh itu, penumpang terhimpit, 14 meninggal dunia.

Perlintasan sebidang di Jalan Ampera itu kemudian jadi sorotan. Mengapa selama ini dibiarkan meski lokasinya tergolong berbahaya?

Bahkan setelah kejadian pada Senin malam, perlintasan itu masih mengandalkan penjagaan manual. Tak ada bunyi bunyi sinyal peringatan ketika kereta hendak melintas. Hanya dua penjaga di masing-masing sisi yang menahan warga. 

Salah seorang penjaga menuturkan, mereka berjaga bergiliran selama 24 jam. Ini karena yang melintas tak hanya KRL yang berhenti beroperasi sekitar pukul 01.00 dini hari. Ada kereta jarak jauh yang melintas tiada henti.

Satu orang bisa berjaga selama beberapa jam sebelum digantikan oleh penjaga berikutnya. “Di sini ada terus yang jaga, 24 jam. Nggak pernah kosong, pasti ada yang standby,” katanya di lokasi, Selasa (28/4/2026).

Kondisi perlintasan sebidang di di Jalan Ampera, Bekasi Timur, Selasa (26/4/2026). Insiden tertempernya taksi oleh KRL comuterline di lokasi itu jadi awal kecelakaan maut di Stasiun Bekasi Timur.

Ia menjelaskan, pembagian waktu jaga dilakukan fleksibel. Pada pagi hari, penjagaan biasanya dimulai sejak pukul 05.00-07.00 WIB, lalu dilanjutkan oleh penjaga lain hingga siang hari. Setelah itu, giliran penjaga berikutnya mengambil alih hingga sore dan malam.

Penjaga itu berdalih, sistem itu adalah bentuk swadaya masyarakat untuk menjaga keselamatan di perlintasan. “Gantian saja, ada yang dari pagi, siang, sampai malam. Kalau ada yang berhalangan, tinggal telepon, nanti digantikan,” katanya.

Read Entire Article
IDX | INEWS | SINDO | Okezone |