Jejak Iblis yang Menyamar Menjadi Seorang Syekh Menjelang Hijrahnya Nabi ke Madinah

4 days ago 17

REPUBLIKA.CO.ID,Peristiwa Baiat Aqabah al-Kubra menjadi salah satu titik balik terpenting dalam sejarah dakwah Islam. Dalam pertemuan rahasia yang berlangsung di Aqabah pada musim haji, 73 laki-laki dan dua perempuan dari Yatsrib menyatakan janji setia kepada Nabi Muhammad SAW. Baiat tersebut tidak hanya membuka jalan bagi hijrah kaum Muslimin ke Madinah, tetapi juga memicu kepanikan para pemimpin Quraisy yang kemudian menyusun rencana untuk membunuh Rasulullah SAW.

Baiat atau perjanjian setia kepada Nabi Muhammad SAW yang terjadi di Aqabah inilah awal mula pergerakan massal hijrahnya para sahabat Nabi SAW dari Makkah ke Madinah, tulis KH Ahmad Zarkasih Lc dalam buku Muharram Bukan Bulan Hijrahnya Nabi terbitan Rumah Fiqih.

Pada 12 Dzulhijjah Tahun 13 Setelah Kenabian, sebanyak 73 orang Yatsrib (sekarang Madinah) laki-laki dan dua orang wanitanya berkumpul di Mina. Mereka datang ke Makkah untuk ritual ibadah haji mengelilingi Ka'bah bersama rombongan besar kaum musyrik Khazraj dari Yatsrib. Tepatnya di Aqabah, setelah mereka melaksanakan ritual haji, secara diam-diam mereka bertemu Nabi SAW dan melakukan baiat janji setia. Yang kemudian baiat itu dinamakan dengan Baiat al-Aqabah al-Kubra.

Berkumpulnya orang-orang Yatsrib ini tidak diketahui oleh rombongan besarnya, yakni rombongan kaum musyrik Khazraj yang melakukan ritual haji mengelilingi Ka'bah di Masjidil Haram. Mereka melakukan ini diam-diam dan sembunyi-sembunyi sambil keluar dari rombongan kaum musyrik Khazraj.

Nabi Muhammad SAW di pertengahan malam bertemu dengan mereka, ketika itu Nabi Muhammad SAW ditemani oleh pamannya yakni Abbas bin Abdul Muthalib, yang ketika itu belum juga beragama Islam. Beliau mendampingi Nabi Muhammad SAW sebagai bentuk penjagaan kepada keponakannya tersebut.

Walau dalam tekanan dan sembunyi-sembunyi, baiat itu pun akhirnya terjadi. Ada 5 perjanjian yang jadi materi Baiat Aqabah Kubra ini:

1. Taat dan setia dalam perkara yang disenangi atau tidak disenangi.

2. Untuk tetap berinfaq baik dalam keadaan luang atau sempit.

3. Tetap melakukan amar ma'ruf nahi munkar.

4. Selalu berada di jalan Allah walau banyak orang yang mencela.

5. Melindungi Nabi Muhammad SAW ketika datang ke Yatsrib sebagaimana mereka melindungi diri mereka, istri, dan anak-anak mereka.

Read Entire Article
IDX | INEWS | SINDO | Okezone |