CSIS: Greenland Simpan 1,5 Juta Ton Rare Earth, Strategis bagi Keamanan Mineral Kritis

10 hours ago 3

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Pusat kajian Center for Strategic and International Studies (CSIS) menilai Greenland berpotensi menjadi salah satu sumber penting mineral kritis global, khususnya rare earth elements (REE), di tengah meningkatnya tekanan rantai pasok dunia dan dominasi China dalam pengolahan mineral strategis.

Direktur Critical Minerals Security Program CSIS, Gracelin Baskaran, menyebut Greenland memiliki cadangan rare earth sekitar 1,5 juta ton, menempatkannya di peringkat kedelapan dunia untuk cadangan REE.

“Greenland menjadi salah satu wilayah yang semakin diperhitungkan dalam strategi diversifikasi pasokan mineral kritis global,” ujar Baskaran dalam laporan CSIS yang dirilis pada Januari 2026.

CSIS mencatat terdapat dua deposit rare earth berskala global di Greenland, yakni Kvanefjeld dan Tanbreez, yang berlokasi di wilayah selatan pulau tersebut.

Deposit Kvanefjeld memiliki lebih dari 11 juta ton sumber daya REE, termasuk sekitar 370.000 ton heavy rare earth elements (HREE), dengan kadar bijih rata-rata 1,43 persen. Namun, proyek ini masih terhambat regulasi karena mengandung sekitar 270.000 ton uranium, dengan kadar 300 parts per million (ppm), melebihi ambang batas legal Greenland sebesar 100 ppm.

Sementara itu, deposit Tanbreez diperkirakan menyimpan hingga 28,2 juta ton sumber daya REE, dengan sekitar 27 persen merupakan heavy rare earth. Kadar bijih Tanbreez tercatat lebih rendah, yakni sekitar 0,38 persen, namun proyek ini telah memperoleh izin eksploitasi, menjadikannya aset REE paling siap dikembangkan di Greenland saat ini.

Selain rare earth, Greenland juga memiliki cadangan mineral kritis lain seperti grafit, tungsten, vanadium, tembaga, zinc, emas, dan uranium yang dibutuhkan untuk industri kendaraan listrik, energi bersih, dan teknologi tinggi.

Namun, CSIS menilai keterbatasan energi dan infrastruktur menjadi tantangan utama. Kapasitas listrik terbesar Greenland saat ini hanya sekitar 54 megawatt (MW) yang terpusat di Nuuk, sementara lokasi tambang utama berada ratusan kilometer dari pusat energi dan pelabuhan besar.

Dari sisi logistik, Greenland yang luasnya hampir tiga kali Texas hanya memiliki sekitar 150 kilometer jalan dan 16 pelabuhan dengan kapasitas terbatas. Pelabuhan Narsaq yang terdekat dengan lokasi tambang hanya mampu menangani sekitar 50.000 ton kargo per tahun.

CSIS menegaskan bahwa tekanan terhadap pasokan rare earth global sepanjang 2025, termasuk pembatasan ekspor oleh China, telah berdampak pada industri otomotif dan manufaktur teknologi bersih di negara-negara Barat.

“Mineral kritis kini menjadi isu strategis yang berkaitan langsung dengan ketahanan industri dan keamanan ekonomi,” tulis Baskaran.

CSIS menilai penguatan kerja sama dan investasi pada sumber mineral kritis alternatif, termasuk Greenland, akan menjadi faktor penting dalam menjaga stabilitas pasokan global ke depan.

Read Entire Article
IDX | INEWS | SINDO | Okezone |