Caplok Greenland, Upaya Amerika Kuasai Cadangan Nuklir Dunia

10 hours ago 3

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Wacana Amerika Serikat untuk memperkuat pengaruhnya di Greenland dinilai tidak lepas dari ambisi mengamankan cadangan uranium global, seiring meningkatnya peran energi nuklir dalam transisi energi dan keamanan pasokan mineral strategis dunia.

Pusat kajian Center for Strategic and International Studies (CSIS) mencatat Greenland menyimpan sekitar 270.000 ton uranium, menjadikannya salah satu deposit uranium terbesar di dunia, yang berpotensi memperkuat posisi negara pengendali sumber daya nuklir global.

Direktur Critical Minerals Security Program CSIS, Gracelin Baskaran, menyebut cadangan uranium Greenland terkonsentrasi di kawasan Kvanefjeld, yang juga dikenal sebagai salah satu deposit rare earth terbesar di dunia.

Menurut CSIS, deposit Kvanefjeld diperkirakan mengandung sekitar 270.000 ton uranium, dengan kadar mencapai 300 parts per million (ppm). Angka tersebut jauh melampaui ambang batas legal Greenland sebesar 100 ppm, sehingga menjadikan proyek ini sangat signifikan secara strategis, namun sensitif secara regulasi.

Cadangan uranium tersebut menempatkan Kvanefjeld sebagai deposit uranium terbesar kedelapan dunia, sekaligus salah satu yang paling bernilai di kawasan Arktik.

Sejak 2021, Greenland memberlakukan larangan eksplorasi dan penambangan uranium, yang secara efektif menghentikan pengembangan Kvanefjeld. Kebijakan ini lahir dari kekhawatiran lingkungan, kesehatan publik, serta penolakan masyarakat lokal terhadap limbah radioaktif.

Akibat larangan tersebut, proyek Kvanefjeld kini terjerat sengketa hukum internasional, dengan nilai gugatan kompensasi mencapai 11,5 miliar dolar AS, setara hampir empat kali produk domestik bruto (PDB) Greenland.

CSIS menilai, di tengah meningkatnya kebutuhan bahan bakar nuklir global—termasuk untuk pembangkit listrik tenaga nuklir konvensional dan small modular reactor (SMR)—cadangan uranium Greenland memiliki nilai strategis jangka panjang bagi negara yang mampu mengamankannya.

“Uranium kini kembali menjadi bagian dari isu keamanan energi dan mineral strategis, seiring kebangkitan energi nuklir rendah karbon,” tulis Baskaran dalam laporan CSIS yang dirilis Januari 2026.

Meski menyimpan cadangan uranium besar, CSIS menilai potensi Greenland saat ini masih terkunci secara komersial akibat keterbatasan regulasi, infrastruktur, serta resistensi sosial. Namun, perubahan kebijakan di masa depan dapat membuka kembali peluang eksploitasi cadangan nuklir tersebut.

CSIS menegaskan, siapa pun yang mampu membangun kemitraan jangka panjang dengan Greenland akan memiliki keunggulan strategis dalam penguasaan rantai pasok uranium dan energi nuklir global.

Read Entire Article
IDX | INEWS | SINDO | Okezone |