Busur Timur: Dari Tokyo ke Seoul, Jejak yang Tidak Selesai dalam Empat Hari

8 hours ago 2

Oleh : Azis Subekti, Anggota DPR RI Fraksi Partai Gerindra

REPUBLIKA.CO.ID, Ada perjalanan yang tidak diukur oleh panjang hari, melainkan oleh kedalaman makna yang ditinggalkannya. Empat hari di Tokyo, lalu satu langkah lanjutan ke Seoul, 29 Maret hingga 1 April 2026, menjadi semacam garis tipis yang memisahkan Indonesia lama dengan Indonesia yang mulai berani merumuskan dirinya sendiri.

Ketika Prabowo Subianto mendarat di Tokyo pada 29 Maret, yang dimulai bukan sekadar kunjungan kenegaraan. Ia adalah pembukaan ulang sebuah hubungan lama, yang kini menuntut tafsir baru.

Pertemuan pertama dengan Naruhito di Istana Kekaisaran bukan sekadar seremoni. Ia adalah perjumpaan dengan waktu itu sendiri—dengan kesinambungan yang membuat Jepang tetap berdiri dalam identitasnya, bahkan ketika dunia berubah terlalu cepat. Di ruang itu, politik seakan melambat, memberi tempat bagi kesadaran bahwa hubungan antarbangsa tidak hanya dibangun oleh kepentingan, tetapi oleh ingatan yang dijaga.

Dari keheningan itu, langkah berlanjut ke ruang yang lebih tegas.

Dalam pertemuan bilateral dengan Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi, percakapan bergerak dari simbol menuju substansi. Jepang berbicara melalui presisi; Indonesia menjawab dengan arah. Tidak ada yang benar-benar meninggikan suara, tetapi di balik kalimat yang tertata rapi, tersimpan negosiasi yang lebih jujur dari sebelumnya.

Puncaknya bukan pada kata-kata, melainkan pada apa yang disaksikan bersama. Sebanyak nilai 23,63 miliar dolar Amerika Serikat (sekitar Rp380 triliun) dalam perjanjian kerja sama strategis antara pelaku usaha Indonesia–Jepang ditegaskan di hadapan Presiden. Namun yang membuatnya berbeda bukan semata angka yang besar, melainkan wataknya yang berubah: energi bersih, kendaraan listrik, dan infrastruktur masa depan yang tidak lagi sekadar membangun ruang, tetapi membangun arah.

Pertemuan dengan kalangan pebisnis Indonesia–Jepang menjadi penguat yang sering luput dari sorotan. Di sana, negara tidak lagi berdiri sendiri; ia bertemu dengan aktor-aktor yang benar-benar menggerakkan ekonomi. Dan justru di titik itu terlihat: hubungan ini tidak hanya dijaga oleh diplomasi, tetapi oleh kepentingan yang mulai diselaraskan.

Indonesia tidak lagi sekadar membuka pintu. Ia mulai menentukan bagaimana dan untuk siapa pintu itu dibuka.

Setelah seluruh rangkaian di Tokyo selesai pada 31 Maret, perjalanan berlanjut ke Seoul—dan di sanalah ritme berubah. Jika Jepang adalah tentang ketepatan yang tenang, Korea Selatan adalah tentang percepatan yang sadar arah.

Di Blue House, Presiden Prabowo bertemu dengan Lee Jae-Myung pada pagi 1 April 2026. Pertemuan itu tidak hanya simbolik; ia langsung menyentuh inti masa depan kerja sama kedua negara.

Kesepakatan yang dicapai tidak berdiri di satu sektor. Ia menyebar: ekonomi, pertahanan, hingga kecerdasan buatan. Sepuluh nota kesepahaman ditandatangani, dari dialog strategis komprehensif, kerja sama ekonomi 2.0, kemitraan mineral kritis, hingga pengembangan digital dan AI untuk kesehatan dasar. Di sana, teknologi tidak lagi menjadi pelengkap. Ia menjadi fondasi.

Kerja sama energi bersih, penangkapan dan penyimpanan karbon (CCS), industri pembangkit lepas pantai, hingga perlindungan hak kekayaan intelektual dan kemitraan keuangan—semuanya membentuk satu benang merah: masa depan tidak bisa ditunda.

Bagi Indonesia, ini bukan sekadar perluasan kerja sama. Ini adalah langkah masuk ke ruang yang selama ini didominasi oleh mereka yang lebih dulu bergerak.

Namun di tengah seluruh arsitektur besar itu, ada satu kisah yang tidak lahir dari ruang perundingan. Tentang seorang pekerja migran Indonesia, Sugianto, yang di Korea Selatan menyelamatkan warga dari musibah kebakaran. Ia tidak hadir di ruang perundingan. Ia tidak menandatangani nota kesepahaman. Tetapi dalam satu tindakan yang lahir dari naluri kemanusiaan, ia menjelaskan sesuatu yang sering luput dari diplomasi: bahwa kepercayaan tidak pernah benar-benar lahir dari dokumen, melainkan dari keberanian manusia untuk saling menjaga.

Hubungan Indonesia dengan Jepang dan Korea Selatan, pada akhirnya, tidak hanya hidup di antara negara. Ia tumbuh dalam kerja, dalam disiplin, dalam mimpi yang dibawa pulang oleh mereka yang belajar dan bekerja jauh dari rumah.

Jepang mengajarkan konsistensi. Korea menunjukkan keberanian untuk melompat.

Indonesia kini berada di antara keduanya, tidak lagi sekadar belajar, tetapi mulai memilih arah. Kunjungan ini bukan tentang apa yang selesai pada 1 April 2026. Ia tentang sesuatu yang mulai menemukan bentuknya.

Bahwa Indonesia tidak lagi cukup menjadi pasar—ia harus menjadi pemain.

Bahwa Jepang tidak cukup hanya stabil—ia harus membuka ruang kemitraan yang lebih setara.

Bahwa Korea Selatan tidak cukup hanya cepat—ia harus memastikan bahwa kecepatannya membawa keberlanjutan.

Dan dari Tokyo hingga Seoul, dunia dapat membaca satu pelajaran yang tidak selalu diucapkan: bahwa kemitraan yang bertahan bukanlah yang paling kuat, melainkan yang paling mampu saling menguatkan tanpa saling melemahkan.

Perjalanan itu mungkin telah selesai. Namun yang tertinggal bukan sekadar kesepakatan, melainkan cara baru untuk saling memandang. Dan di sanalah, perlahan namun pasti, masa depan mulai ditulis.

Disclaimer: Pandangan yang disampaikan dalam tulisan di atas adalah pendapat pribadi penulisnya yang belum tentu mencerminkan sikap Republika soal isu-isu terkait.

Read Entire Article
IDX | INEWS | SINDO | Okezone |