Audiens Kian Suka Konten Singkat, Media Digital Dituntut Lebih Adaptif

2 hours ago 2

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pendiri Bubu.com dan Nusantara Ventures, Shinta Witoyo Dhanuwardono, menilai media digital dituntut semakin adaptif mengikuti perubahan perilaku audiens yang kian menyukai format konten singkat. Pola konsumsi informasi yang serba cepat membuat media perlu merancang ulang strategi distribusi konten tanpa kehilangan relevansi dan nilai jurnalistik.

Shinta melihat derasnya arus konten di ruang digital turut memendekkan rentang perhatian pembaca. Kondisi ini mendorong media mengemas berita secara lebih ringkas dan mudah dicerna, seiring maraknya platform berbasis video singkat dan visual interaktif.

“Media pun harus beradaptasi. Berita sekarang perlu dibuat lebih pendek karena attention span orang ikut memendek. Konten yang masuk terlalu banyak, jadi medianya harus punya strategi untuk berubah,” ujar Shinta saat berbincang dengan Pemimpin Redaksi Republika Andi Muhyiddin di kawasan Pondok Indah, Jakarta, Selasa (20/1/2026).

Ia memandang adaptasi format bukan sekadar pilihan teknis, melainkan keniscayaan agar media tetap terhubung dengan audiens. Platform seperti Reels dan TikTok, menurut dia, membentuk kebiasaan baru dalam mengonsumsi informasi, terutama di kalangan muda yang mengutamakan kecepatan dan kekuatan visual.

Dalam pandangan Shinta, perubahan format tersebut membawa konsekuensi terhadap kualitas jurnalisme. Risiko penurunan kedalaman liputan selalu ada ketika berita diringkas, terlebih di tengah tekanan kecepatan dan dominasi algoritma.

“Pasti ada risikonya. Tapi media harus pintar memanfaatkan teknologi agar konten pendek justru membuka lebih banyak interaksi dengan pembaca dan followers,” kata pegiat digital tersebut.

Ia menekankan tantangan tersebut perlu dijawab melalui inovasi editorial dan pemanfaatan teknologi secara tepat. Format pendek, menurut Shinta, dapat berfungsi sebagai pintu masuk yang mengarahkan audiens pada liputan yang lebih komprehensif, bukan menggantikan kerja jurnalistik yang mendalam.

Pengalaman panjang Shinta di industri digital membentuk cara pandangnya terhadap perubahan tersebut. Sejak mendirikan Bubu pada 1996, ia menyaksikan transformasi internet dari sekadar medium informasi menjadi ruang interaksi yang membentuk kultur baru, termasuk dalam cara publik mengonsumsi berita.

Menurut dia, kepemimpinan di era digital menuntut media untuk terus belajar dan beradaptasi dengan cepat. Perubahan berlangsung hampir setiap detik, terutama dengan kehadiran kecerdasan buatan yang turut memengaruhi proses produksi dan distribusi konten.

“Kalau kita berhenti belajar, itu akhir dari sebuah era. Di teknologi, pemimpin harus kreatif, inovatif, dan adaptif,” ujar Shinta.

Ia juga mengingatkan media agar tidak terjebak pada ketakutan kehilangan peran akibat teknologi. Internet dan kecerdasan buatan, dalam pandangannya, tetap merupakan alat yang harus dikendalikan manusia untuk memperkuat kerja redaksi dan memperluas jangkauan audiens.

Shinta menilai keberlanjutan media digital sangat bergantung pada kemampuan membaca kultur audiens. Pemahaman terhadap komunitas dan kebiasaan konsumsi informasi menjadi kunci agar adaptasi format tetap sejalan dengan nilai-nilai jurnalistik.

Transformasi menuju format konten singkat, menurutnya, tidak meniadakan jurnalisme berkualitas. Tantangannya terletak pada meramu kecepatan, ketepatan, dan kedalaman agar media tetap dipercaya di tengah banjir informasi.

Read Entire Article
IDX | INEWS | SINDO | Okezone |