Asal Purba Taring Tarantula

4 hours ago 2

Oleh Ahmadie Thaha, Kolumnis

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pada 1955, Hollywood menakut-nakuti dunia dengan film heboh Tarantula!. Posternya sederhana tapi efektif: seekor laba-laba raksasa menjulang setinggi gedung, menggigit manusia dengan sepasang taring yang tampak seperti dua belati.

Di poster, orang berlarian menyaksikan taring menjepit perut seorang perempuan. Pesannya jelas. Yang paling mengerikan dari laba-laba bukan delapan kakinya, bukan jaringnya, melainkan dua taring yang menyuntikkan racun ke tubuh mangsanya.

Tujuh puluh tahun kemudian, para ilmuwan justru mengajak kita menoleh ke arah yang sama: ke taring itu. Bukan untuk membuat film horor baru, melainkan untuk menjawab pertanyaan yang jauh lebih menarik. Dari mana sebenarnya taring laba-laba berasal?

Jawaban ilmiahnya ternyata tak ditemukan di hutan Amazon, bukan pula di gurun Arizona tempat film itu berlatar. Para peneliti yang mempercayai teori evolusi menemukannya di bebatuan Yunnan, China selatan.

Di sana, para paleontolog menggali fosil makhluk laut berusia sekitar 518 juta tahun. Namanya Urokodia. Panjang tubuhnya hanya dua hingga tiga sentimeter. Jauh dari kesan menyeramkan. Bentuknya malah lebih mirip udang transparan ketimbang laba-laba.

Namun, evolusi sering menyimpan kejutan pada bagian yang paling kecil. Dengan bantuan pemindaian sinar-X beresolusi tinggi, peneliti menemukan sepasang anggota tubuh kecil di dekat mata Urokodia. Sepintas hanya capit mungil. Tapi justru di situlah letak penemuan besarnya.

Struktur itu merupakan bentuk paling awal dari chelicerae — alat mulut khas kelompok chelicerata yang, ratusan juta tahun kemudian, berevolusi menjadi taring laba-laba, capit kalajengking, hingga alat pengisap darah pada kutu.

Sejarah kadang hanya dimulai oleh sepasang capit kecil. Laba-laba, kalajengking, tungau, kutu, kepiting tapal kuda, hingga laba-laba laut termasuk kelompok chelicerata. Kini jumlah spesiesnya melebihi 100 ribu.

Tarantula sendiri sebenarnya bukan nama untuk semua laba-laba, melainkan salah satu kelompok laba-laba terbesar di dunia dari famili Theraphosidae. Tubuhnya yang besar, berbulu lebat, serta sepasang taring yang mencolok membuatnya menjadi ikon dunia laba-laba.

Meski tampil mengintimidasi, sebagian besar tarantula tidak mematikan bagi manusia. Namun citra menyeramkan itulah yang membuat Hollywood menjadikannya bintang film horor, sementara para ilmuwan justru menjadikannya pintu masuk untuk memahami bagaimana senjata paling khas laba-laba itu lahir melalui perjalanan evolusi.

Kelompok chelicerata, termasuk di dalamnya laba-laba raksasa tarantula, adalah salah satu kelompok predator paling sukses dalam sejarah kehidupan. Selama lebih dari 400 juta tahun mereka telah berburu di daratan. Namun nenek moyang mereka justru lahir jauh lebih awal, di dasar laut zaman Kambrium.

Periode Kambrium sering disebut sebagai "Big Bang"-nya dunia hewan. Dalam rentang geologi yang relatif singkat, hampir seluruh rancangan dasar tubuh hewan modern muncul. Alam seolah sedang bereksperimen tanpa henti: ada yang gagal, ada yang punah, ada pula yang melahirkan garis keturunan hingga hari ini.

Disclaimer: Pandangan yang disampaikan dalam tulisan di atas adalah pendapat pribadi penulisnya yang belum tentu mencerminkan sikap Republika soal isu-isu terkait.

Read Entire Article
IDX | INEWS | SINDO | Okezone |