Imam Sahroni Darmawan
Sastra | 2026-08-09 23:18:23
Ilustrasi seseorang kembali mengenang masa kecil di pematang tambak, ditemani layang-layang yang terbang jauh di langit. Sumber : AI
Tukang dari kelurahan sudah dua hari mengaduk semen ketika aku pulang. Bau kapur bercampur bau lumpur tambak, dua bau yang biasanya tidak pernah ketemu di udara yang sama.
"Airnya tidak pernah surut," kata Pak Har, mengaduk sambil sesekali meludah ke tanah. "Kemarau delapan bulan, tetap penuh. Kelurahan bilang bahaya."
Orang-orang berkerumun di pematang. Bu Sum, rambutnya sudah putih semua tapi suaranya masih setajam dulu, bicara pada perempuan di sebelahnya, cukup keras supaya aku dengar. "Untung ada yang lihat waktu itu. Si Rojak. Aneh orangnya, tapi untung ada dia."
Aku berdiri agak jauh, memegang gulungan benang tua yang kubawa dari rumah tanpa tahu untuk apa. Kata "untung" itu menempel di telingaku lama.
Sumur itu dulu bukan tempat yang ditakuti siapa pun. Kami mandi di sana kalau air tambak sedang keruh sehabis hujan besar, berebut siapa lebih dulu menimba, siapa paling lama menahan napas di bawah gayung. Ibu-ibu mencuci di pinggirnya sambil bergosip, tentang siapa yang belum bayar utang di warung Haji Muslim, siapa yang anaknya kawin lari ke Bangkalan, siapa yang tambaknya diserang hama minggu itu. Anak-anak melempar biji asam ke dalamnya, menghitung detik sebelum bunyi kecipak muncul, seolah kedalaman sumur bisa diukur dari bunyi, padahal tidak ada satu orang dewasa pun yang pernah benar-benar mengukurnya.
Sore-sore begitu selalu diakhiri azan magrib dari surau kayu di ujung kampung, suaranya agak sember karena pengeras suaranya sudah tua, dan begitu azan berkumandang semua anak wajib pulang, siapa yang masih di luar akan dianggap kurang ajar oleh siapa pun yang melihatnya, bukan cuma orang tuanya sendiri. Bu Sum sendiri yang biasanya paling cepat menegur, berdiri di depan rumahnya sambil menghitung anak-anak yang lewat satu per satu, seperti guru mengabsen murid yang tidak pernah ia ajar.
Umurku sembilan tahun waktu itu. Aku dan Sohib, anak Bu Sum yang suaranya selalu paling keras kalau ada keributan, sama seperti ibunya, sedang membuat layang-layang dari bambu jemuran dan kertas minyak curian. Sudah tiga hari kami mengasah benang dengan pecahan kaca supaya bisa menggergaji layang-layang lawan waktu bertanding, dan jemari kami penuh sayatan halus yang perih kalau kena percikan air garam yang selalu ada di udara kampung ini, menempel di baju, di rambut, kadang di lidah kalau lupa menutup mulut waktu angin kencang dari arah tambak.
Bapak pernah menegurku soal kaca itu. "Nanti putus urat," katanya, mengambil pecahan kaca dari tanganku, menggantinya dengan seutas tali rafia yang entah kenapa selalu ada di kantong celananya. Aku ngambek, membanting gulungan benang ke tanah. Bapak tidak membalas ngambekku dengan omelan. Ia hanya duduk di sebelahku, mengumpulkan kembali benang yang berserakan, menggulungnya pelan-pelan sampai magrib tanpa bicara sepatah pun, sementara di kejauhan kudengar suara ibu-ibu memanggil anak-anak mereka pulang satu per satu, nama demi nama, sampai tinggal namaku dan nama Sohib yang belum dipanggil. Bapak tidak pernah lagi mengeluarkan tali rafia itu setelah malam itu, tapi kantong celananya tetap agak menggembung, seolah sesuatu masih disimpan di sana untuk berjaga-jaga.
Sore itu Ibu menitipkan Rian, adikku, dua tahun, di atas tikar dekat kandang kambing. "Jangan jauh-jauh dari dia," katanya, menyeimbangkan bakul ikan di kepala, berjalan ke tempat pelelangan dengan langkah yang sudah dihafal tubuhnya sejak dua puluh tahun berjualan di sana. Bau amis dari bakul itu masih tertinggal di udara, bercampur bau kambing dan tanah yang baru disiram, kombinasi yang sampai sekarang bisa membuatku merasa sedang berumur sembilan tahun lagi kalau tercium tiba-tiba di tempat lain.
Aku bilang iya. Tapi mataku sudah di langit, di layang-layang Sohib yang mulai mengunci benangku, saling menggergaji di udara sambil anak-anak lain bersorak dari pematang. Kami sedang di titik paling menegangkan, benang kami bergesekan, siapa putus dulu kalah, dan lima kelereng taruhan sudah digenggam Sohib di saku celananya, mengilat kalau kena matahari.
Ada suara byur kecil di antara sorak-sorai itu. Aku pikir itu ikan tambak yang meloncat, seperti biasa waktu sore turun.
Tikar itu kosong.
Mat Rojak sudah setengah badan di sumur sebelum aku sampai berlari ke sana, sarungnya melilit kakinya sendiri, canggung mengangkat Rian dengan satu tangan seperti orang yang jarang menggendong bayi siapa pun. Ia menepuk-nepuk punggung Rian sampai batuk, menangis, lalu diam. Aku berdiri di situ memegang gulungan benang yang masih tersambung ke langit, ke layang-layang yang perlahan oleng karena tidak ada lagi yang menariknya.
Warga datang cepat. Mat Rojak masih duduk di tanah, napasnya berat, matanya menatap terlalu lama pada satu titik, kebiasaan yang membuat orang kampung sudah lama berhenti menunggu jawabannya.
"Kenapa kau ada di situ?" Bukan pertanyaan sebenarnya. Lebih seperti percikan pada sesuatu yang sejak dulu sudah kering, tinggal menunggu.
Ibu datang berlari, memeluk Rian, menghitung jari-jarinya seperti mencari yang hilang. Ia menatapku sebentar, lalu menunduk, memeras ujung baju Rian yang basah. Jari-jarinya berhenti bergerak satu detik, cuma satu detik, lalu ia lanjut memeras seperti tidak terjadi apa-apa.
Bapak berdiri agak jauh dari kerumunan, tangannya di saku, menatap sumur lebih lama daripada menatap siapa pun yang bicara. Ia tidak ikut bertanya kenapa Mat Rojak ada di situ. Ia juga tidak membelanya. Malam itu ia makan tanpa bicara sama sekali, satu-satunya malam yang kuingat Bapak tidak mengomentari lauk apa pun di meja, padahal biasanya ia selalu punya sesuatu untuk dikatakan soal ikan asin yang terlalu asin atau terlalu tawar.
Ibu tidak bertanya kenapa aku tidak di dekat Rian. Malam itu, sambil menjemur jaring yang sebenarnya sudah kering sejak sore, ia hanya berkata, "Besok kau bantu Bapak di tambak saja, tidak usah main layang-layang dulu." Tidak lebih dari itu.
Aku ikut diam. Diam yang pertama, dan yang paling lama kuingat, karena tidak ada yang memaksaku.
Tiga malam kemudian aku membawa layang-layang yang sudah kuperbaiki ke gubuk Mat Rojak, tidak tahu harus bilang apa, jadi hanya kusodorkan. Gubuknya kecil, beratap rumbia yang sudah menghitam di beberapa bagian, bau jaring basah bercampur bau minyak tanah dari lampu teplok yang menyala redup di sudut.
Ia menatap layang-layang itu lama, lalu menatapku, seperti bingung kenapa anak kecil datang malam-malam membawa mainan ke gubuk seorang laki-laki yang baru saja dituduh warga.
"Buat apa?"
"Untuk Bapak Rojak."
Ia menerimanya hati-hati, seperti barang pecah belah, meletakkannya di sudut gubuk di antara jaring-jaring yang sedang ditambal. "Dulu saya juga punya anak," katanya, tidak menatapku, suaranya nyaris tidak terdengar di antara bunyi jangkrik dari luar. "Umurnya sama seperti adikmu."
Ia tidak melanjutkan. Aku terlalu kecil untuk bertanya lebih jauh, dan tidak lama setelah itu ia pindah ke seberang tambak, sebelum aku sempat tahu ke mana perginya rasa penasaranku sendiri, apakah ikut pindah bersama kepergiannya atau justru menetap dan tumbuh diam-diam di dadaku, sebesar aku tumbuh.
Dua puluh tiga tahun berjalan begitu saja. Ibu tetap memasak tiga piring setiap kali aku pulang, lalu diam-diam menyingkirkan satu piring ke rak. Rian besar tanpa pernah menerbangkan layang-layang, tanpa tahu sendiri kenapa ia selalu memilih jalan memutar setiap kali melewati genangan air. Sesekali aku mendengar nama Rojak disebut seperti nama penyakit lama, perlu diingat, tidak perlu dibicarakan.
Hari penutupan sumur itu, sesudah Bu Sum mengulang lagi kalimatnya soal untung ada yang lihat, aku pulang sebentar mengambil gulungan benang yang tersimpan di lemari Ibu, entah sejak kapan berpindah ke sana.
Ibu sedang menyapu halaman. Ia berhenti di depan pintu, menatap gulungan benang yang sudah kuletakkan di atas meja sejak subuh.
"Bawa itu," katanya, tidak menatapku. "Sudah terlalu lama di sini."
Ia sudah kembali menyapu, sapuan itu lebih keras dari yang diperlukan untuk halaman yang sebenarnya sudah bersih.
Mat Rojak sudah bungkuk sekarang. Matanya masih menatap terlalu lama sebelum bicara. Aku duduk di terasnya, menaruh gulungan benang itu di lantai papan yang sudah lapuk sebagian.
"Layang-layang yang saya bawa waktu kecil," kataku. "Bapak Rojak masih terbangkan?"
Ia diam sebentar, masuk, menggeser sesuatu, kembali membawa kaleng biskuit berkarat. Di dalamnya kertas minyak yang sudah jadi debu di pinggirannya, dan di bawahnya, samar, sepotong tali rafia yang sudah kaku dimakan waktu.
"Tidak pernah saya terbangkan," katanya. "Sayang kalau putus lagi."
Aku menahan diri untuk tidak segera bicara. "Waktu itu," suaraku tersangkut, dan aku memilih berhenti di sana.
Mat Rojak menatap kaleng itu, bukan aku. "Kau kira saya diam karena baik," katanya pelan. "Saya diam karena anak saya sendiri juga tenggelam. Di tambak lain, dua tahun sebelum kejadian adikmu. Waktu itu saya yang jaga." Ia menutup kaleng itu lagi, bunyinya berdenting kecil. "Kampung ini butuh satu orang salah setiap kali ada yang celaka. Saya sudah biasa jadi orangnya."
Ia diam lagi, cukup lama sampai aku pikir percakapan ini sudah selesai. Lalu ia menambahkan, "Kau tidak usah bilang apa-apa sekarang. Saya sudah tahu dari dulu, cuma tidak pernah ada yang tanya."
Aku pulang lewat jalan tambak, melewati sumur yang semennya sudah setengah kering. Retak halus muncul di satu sisinya, tanah di bawahnya masih bergerak mencari jalan sendiri.
Aku menggenggam gulungan benang itu, dan bekas sayatan di jari telunjukku, dari kaca yang sama dua puluh tiga tahun lalu, terasa perih lagi, padahal lukanya sudah lama mengering. Di celah semen yang belum sepenuhnya keras, setetes air merembes keluar, pelan, seperti sesuatu yang masih mencoba pulang meski mulutnya sudah ditutup.
Langit sore itu kosong. Tidak ada satu pun layang-layang naik, dan di kantong celanaku ada segenggam biji asam yang tidak pernah kulempar ke mana pun.
***
Imam Sahroni Darmawan adalah penulis yang meyakini bahwa setiap tempat menyimpan cerita dan setiap ingatan memiliki kehidupan kedua melalui sastra. Aktif menulis karya ilmiah, opini, dan fiksi dengan perhatian pada manusia, desa, serta perubahan sosial
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
.png)
3 hours ago
1














































