REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Uni Emirat Arab (United Arab Emirates/UAE) mengumumkan keluar dari OPEC dan kerangka kerja OPEC+. Sehingga, ini menghapus salah satu pilar utama dari kelompok paling berpengaruh di dunia energi.
Negara Teluk tersebut, dengan kapasitas sekitar 4,8 juta barel per hari dan ruang signifikan untuk meningkatkan produksi, pada Selasa mengumumkan akan keluar dari organisasi tersebut untuk fokus pada “kepentingan nasional”.
Langkah ini terjadi di tengah perang Amerika Serikat-Israel melawan Iran yang memicu guncangan energi bersejarah.
Berikut penjelasan mengenai sejarah dan peran organisasi tersebut dalam ekonomi global, dilansir Aljazeera, Rabu (29/4/2026).
Kapan OPEC didirikan dan mengapa?
Organization of the Petroleum Exporting Countries (OPEC) merupakan organisasi permanen antarpemerintah yang berbasis di Wina, Austria, dengan tujuan mengoordinasikan dan menyatukan kebijakan perminyakan di antara negara anggota.
Organisasi ini pertama kali dibentuk dalam Konferensi Baghdad pada September 1960 oleh lima negara produsen minyak pendiri, yakni Iran, Irak, Kuwait, Arab Saudi, dan Venezuela.
Pada saat itu, pasar minyak global didominasi oleh sekelompok perusahaan minyak Barat yang kuat, dikenal sebagai “Seven Sisters”, yang mengendalikan produksi dan menetapkan harga.
Tujuan utama negara-negara pendiri adalah menegaskan kedaulatan atas sumber daya alam mereka serta memastikan harga yang adil dan stabil bagi produsen minyak, sekaligus menjaga pasokan yang teratur bagi negara konsumen.
Saat ini, OPEC memiliki 12 anggota, termasuk selain Uni Emirat Arab: Aljazair, Republik Kongo, Guinea Khatulistiwa, Gabon, Iran, Irak, Kuwait, Libya, Nigeria, Arab Saudi, dan Venezuela.
Berdasarkan pernyataan yang dirilis pada Selasa, penarikan diri Uni Emirat Arab akan berlaku efektif pada 1 Mei, menandai keluarnya anggota yang telah berkontribusi sejak 1967.
Organisasi ini menjaga stabilitas harga dengan menetapkan kuota produksi yang disepakati bersama, yang secara kolektif menguasai sekitar 30 persen pasokan global.
Sejak 2016, OPEC juga bekerja sama dengan Rusia, Azerbaijan, Kazakhstan, Bahrain, Brunei, Malaysia, Meksiko, Oman, Sudan Selatan, dan Sudan melalui kerangka OPEC+, sehingga total produksinya mencapai sekitar 41 persen pasokan global.
.png)
1 hour ago
3
















































