Ubah Sampah Makanan Jadi Kompos, Tren Ramah Lingkungan di Perkotaan

1 hour ago 1

Selasa 13 Jan 2026 06:00 WIB

Koperasi Kompos mengolah sampah organik milik warga menjadi pupuk kompos.

Red: Edwin Dwi Putranto

Foto kolase sampah organik milik warga (kiri) yang diolah menjadi pupuk kompos (kanan) di Koperasi Kompos Perumahan Jatinegara Baru, Jakarta Timur, Rabu (7/1/2026). Koperasi Kompos Perumahan Jatinegara Baru melakukan pengolahan sampah organik milik warga menjadi pupuk kompos. (FOTO : Edwin Putranto/Republika)

Dimulai di tahun 2021, saat ini dari 450 rumah di perumahan itu sudah ada 150 rumah yang turut berkontribusi dalam pengelolaan sampah organik di Koperasi Kompos. (FOTO : Edwin Putranto/Republika)

Inisiator Koperasi Kompos Perumahan Jatinegara Baru, Shanty Syahril mengatakan, pengolahan sampah organik menjadi kompos dilakukan dengan skema kolektif. Anggota koperasi memilah sampah dapur menggunakan ember, lalu petugas koperasi menjemputnya selama tiga kali seminggu untuk diolah. (FOTO : Edwin Putranto/Republika)

Dalam sepekan, setidaknya 500 kilogram sampah organik milik warga dikumpulkan oleh para pekerja Koperasi Kompos. (FOTO : Edwin Putranto/Republika)

Sampah organik yang dikumpulkan dari warga kemudian akan diolah oleh para petugas Koperasi Kompos menjadi pupuk kompos. (FOTO : Edwin Putranto/Republika)

Kompos yang dihasilkan di Koperasi Kompos akan dibagikan kembali kepada warga sebagai pupuk tanaman, dan sebagian lainnya dijual. (FOTO : Edwin Putranto/Republika)

Pendekatan yang digunakan Koperasi Kompos relatif sederhana. Masyarakat diajak untuk memulai dari pemilahan sampah organik dan anorganik, kemudian mengolah limbah organik dengan metode komposting yang mudah dilakukan, tanpa memerlukan peralatan khusus atau biaya besar. (FOTO : Edwin Putranto/Republika)

Upaya yang dilakukan Koperasi Kompos di Perumahan Jatinegara Baru ini sejalan dengan meningkatnya kebutuhan akan solusi pengelolaan sampah yang berkelanjutan, khususnya di kawasan perkotaan. (FOTO : Edwin Putranto/Republika)

Sampah sisa makanan diolah secara harian, sehingga pengelolaan dari sumbernya dapat menjadi langkah strategis untuk mengurangi beban Tempat Pembuangan Akhir (TPA). (FOTO : Edwin Putranto/Republika)

Inisiatif ini ditujukan untuk mendorong perubahan perilaku masyarakat agar lebih bijak dalam mengelola limbah dapur. (FOTO : Edwin Putranto/Republika)

Dengan memahami siklus pengelolaan sampah organik, warga diharapkan tidak hanya berperan sebagai penghasil sampah, tetapi juga sebagai bagian dari solusi dalam menjaga kelestarian lingkungan. (FOTO : Edwin Putranto/Republika)

Koordinator Koperasi Kompos Perumahan Jatinegara Baru, Shanty Syahril menunjukkan pupuk kompos hasil dari pengolahan sampah organik milik warga di Perumahan Jatinegara Baru, Jakarta. (FOTO : Edwin Putranto/Republika)

inline

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pekerja melakukan pengolahan sampah makanan milik warga menjadi pupuk kompos di Perumahan Jatinegara Baru, Jakarta Timur, Rabu (7/1/2026).

Koperasi Kompos Perumahan Jatinegara Baru melakukan pengolahan sampah organik milik warga menjadi pupuk kompos. Dimulai sejak tahun 2021, saat ini, dari 450 rumah di perumahan itu sudah ada 150 rumah yang turut berkontribusi.

Inisiator Koperasi Kompos Perumahan Jatinegara Baru, Shanty Syahril mengatakan, pengolahan sampah organik menjadi kompos dilakukan dengan skema kolektif. Anggota koperasi memilah sampah dapur menggunakan ember, lalu petugas koperasi menjemputnya selama tiga kali seminggu untuk diolah.

Dalam sepekan, setidaknya 500 kilogram sampah organik dikumpulkan oleh para pekerja Koperasi Kompos. Kompos yang dihasilkan akan dibagikan kembali kepada warga sebagai pupuk tanaman, dan sebagian lainnya dijual.

Upaya yang dilakukan Koperasi Kompos di Perumahan Jatinegara Baru ini sejalan dengan meningkatnya kebutuhan akan solusi pengelolaan sampah yang berkelanjutan, khususnya di kawasan perkotaan.

Sampah sisa makanan diolah secara harian, sehingga pengelolaan dari sumbernya dapat menjadi langkah strategis untuk mengurangi beban Tempat Pembuangan Akhir (TPA).

Selain aspek lingkungan, program edukasi juga mengandung nilai pemberdayaan masyarakat. Dengan memahami siklus pengelolaan sampah organik, warga diharapkan tidak hanya berperan sebagai penghasil sampah, tetapi juga sebagai bagian dari solusi dalam menjaga kelestarian lingkungan.

sumber : Republika

Berita Lainnya

Read Entire Article
IDX | INEWS | SINDO | Okezone |