Terungkap Rencana Jahat AS-Israel Perangi Iran, Dipersiapkan Matang oleh Mossad

6 hours ago 5

REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON -- Kantor berita The New York Times melaporkan bagaimana Israel dan Amerika Serikat (AS) memulai perang terhadap Republik Islam Iran pada akhir Februari 2026 lalu. Terlepas dari adanya negosiasi antara AS dan Iran saat itu, ternyata rencana aksi negara zionis tersebut telah matang. 

Saat Amerika Serikat dan Israel bersiap untuk berperang dengan Iran, kepala dinas intelijen luar negeri Israel, Mossad, menemui Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dengan sebuah rencana. Kepala Mossad, David Barnea mengatakan, dinasnya kemungkinan besar akan mampu menggalang oposisi Iran, memicu kerusuhan dan tindakan pemberontakan lainnya yang dapat menyebabkan runtuhnya pemerintahan Iran.

Netanyahu pun menyetujui rencana tersebut. Barnea juga menyampaikan proposal tersebut kepada para pejabat senior pemerintahan Presiden AS Donald Trump selama kunjungan ke Washington pada pertengahan Januari 2026. Terlepas dari keraguan di antara para pejabat senior Amerika dan beberapa pejabat di badan intelijen Israel lainnya, tetapi Netanyahu dan Trump tampaknya optimis.

Membunuh para pemimpin Iran di awal konflik, diikuti oleh serangkaian operasi intelijen yang bertujuan mendorong perubahan rezim, menurut mereka, dapat menyebabkan pemberontakan massal yang mungkin akan mengakhiri perang dengan cepat. Hal itu kemudian tercermin dari pidato Trump saat awal perang.

“Ambil alih pemerintahan Anda: Itu akan menjadi milik Anda,” kata Trump kepada warga Iran, setelah sebelumnya mengatakan bahwa mereka harus terlebih dahulu mencari perlindungan dari pemboman.

Tiga pekan setelah perang dimulai, pemberontakan di Iran belum juga terwujud. Penilaian intelijen Amerika dan Israel menyimpulkan bahwa pemerintah Iran melemah, tetapi masih utuh. Ketakutan yang meluas terhadap militer dan kepolisian Iran juga telah meredam prospek pemberontakan dan milisi etnis di luar Iran untuk melancarkan serangan lintas batas.

Keyakinan bahwa Israel dan AS dapat membantu memicu pemberontakan yang meluas merupakan kesalahan mendasar dalam persiapan perang yang telah menyebar ke seluruh Timur Tengah. Alih-alih runtuh dari dalam, pemerintah Iran justru memperkuat posisinya dan meningkatkan konflik, melancarkan serangan dan serangan balasan terhadap pangkalan militer, kota-kota, dan kapal-kapal di sekitar Teluk Persia, serta terhadap instalasi minyak dan gas yang rentan.

The New York Times menulis, laporan ini didasarkan pada wawancara dengan lebih dari sepuluh pejabat Amerika, Israel, dan pejabat asing lainnya, baik yang masih menjabat maupun yang sudah pensiun, yang sebagian besar berbicara sebagai anonim. The New York Times mewawancarai para pejabat dengan berbagai pandangan tentang kemungkinan terjadinya pemberontakan.

Read Entire Article
IDX | INEWS | SINDO | Okezone |