Sering Dianggap Aman, Ternyata Satu Isapan Vape Bisa Setara Sebungkus Rokok

6 days ago 18

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Vape atau rokok elektrik sering kali dianggap sebagai pilihan aman dibandingkan dengan rokok konvensional. Padahal, dokter dan literatur medis menegaskan bahwa vape sama berbahayanya dengan rokok konvensional.

Dokter spesialis anak subspesialis respirologi anak, dr Cynthia Centauri, mengatakan vape terbukti mengandung nikotin dalam kadar tinggi. Bahkan terdapat vape yang kadar nikotinnya dalam satu kali hirup setara dengan satu bungkus rokok biasa.

"Vape itu kandungan nikotinnya tinggi sekali loh, bahkan ada yang satu kali hirup itu sebanding dengan satu bungkus rokok biasa. Ini jelas bahaya, apalagi jika asapnya terpapar kepada bayi dan anak-anak," kata dr Cynthia dalam diskusi dari lkatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Selasa (7/7/2026).

Dampak jangka pendek dari penggunaan atau paparan vape terhadap anak sudah banyak diungkap oleh literatur medis. Menurut dr Cynthia, vape terbukti dapat menyebabkan gangguan saluran pernapasan, mulai dari bronkitis, pneumonia, radang paru hingga pneumotoraks atau kondisi paru-paru yang pecah secara spontan.

Namun untuk dampak jangka panjang vape belum banyak penelitiannya. Hal itu karena vape baru beredar secara masif dalam 10 tahun terakhir sehingga data jangka panjangnya masih terbatas. Meski begitu, dr Cynthia tak menutup kemungkinan vape bisa memicu kanker paru dalam jangka panjang.

"Tapi jika melihat tingginya kadar nikotin yang terkandung di dalam vape, sangat mungkin dampak panjang dari vape bisa memicu kanker paru di kemudian hari," kata dr Cynthia.

la juga menyoroti praktik pemasaran dan promosi vape yang kerap dikemas dengan menggemaskan. Misalnya hadir dengan likuid dari berbagai aroma seperti matcha, stroberi, dan wewangian lainnya. Praktik pemasaran seperti ini, kata dr Cynthia, memberikan kesan seolah-olah vape bukan produk berbahaya. Bahkan bisa jadi konsumen menganggapnya sebagai aromaterapi atau sesuatu yang membuat nyaman.

"Yang jadi masalah kemasan vape ini juga sering menipu, ada rasa matcha, stroberi, atau lainnya, sehingga vape dianggap sebagai pelega atau mungkin bisa ditafsirkan sebagai aromaterapi gitu ya. Padahal sebetulnya vape sifatnya sangat berbahaya," ujar dr Cynthia.

la juga menyoroti lemahnya regulasi mengenai vape di Indonesia, sehingga produk vape dengan kadar nikton sangat tinggi masih bisa beredar di pasaran. Padahal di sejumlah negara, kadar nikotin pada vape telah diatur secara ketat sehingga produk yang melebihi batas tertentu tidak diizinkan beredar.

Read Entire Article
IDX | INEWS | SINDO | Okezone |