REPUBLIKA.CO.ID, DOHA -- Iran meluncurkan serangan rudal dan drone ke sejumlah negara kawasan Teluk pada Ahad (12/7/2026) sebagai balasan atas serangan militer Amerika Serikat (AS) terhadap sasaran-sasaran militer di Iran. Serangan itu menandai eskalasi terbaru konflik antara Teheran dan Washington meski upaya mempertahankan gencatan senjata masih terus dilakukan.
Dilansir dari Al Jazeera, Uni Emirat Arab (UEA), Qatar, Kuwait, Oman, dan Bahrain melaporkan adanya serangan rudal maupun drone dari Iran. Serangan tersebut terjadi hanya beberapa jam setelah Komando Pusat Militer AS (CENTCOM) mengumumkan telah menggempur sekitar 140 target militer di Iran, termasuk lokasi peluncuran rudal dan drone, aset angkatan laut, serta gudang amunisi. Media pemerintah Iran melaporkan seorang perwira militer tewas dalam serangan tersebut.
Eskalasi terbaru ini terjadi setelah ketegangan di Selat Hormuz kembali meningkat dalam beberapa hari terakhir. Pada Sabtu (11/7/2026), Iran menyerang sebuah kapal kontainer berbendera Siprus. Setelah itu, Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) mengumumkan bahwa Selat Hormuz ditutup hingga waktu yang belum ditentukan dan tidak ada kapal yang diizinkan melintas.
Seluruh negara anggota Dewan Kerja Sama Teluk (GCC), kecuali Arab Saudi, melaporkan telah mencegat rudal atau drone yang ditembakkan Iran.
Di Qatar, Kementerian Dalam Negeri menyatakan tiga orang, termasuk seorang anak, terluka akibat serpihan rudal yang jatuh. Pemerintah Qatar mengecam keras serangan tersebut dan menyebutnya sebagai eskalasi berbahaya yang dapat menggagalkan upaya diplomasi.
Sementara itu, pemerintah UEA mengatakan sistem pertahanan udaranya diaktifkan untuk menghadapi rudal dan drone dari Iran. Dalam pernyataan lanjutan, otoritas UEA menyebut ancaman rudal tersebut berada di luar wilayah negaranya.
Di Bahrain, sirene peringatan serangan rudal kembali berbunyi untuk ketiga kalinya pada Ahad. Negara itu menjadi lokasi markas Armada Kelima Angkatan Laut Amerika Serikat.
Militer Kuwait juga menyatakan berhasil mencegat proyektil yang masuk ke wilayahnya. Adapun kantor berita resmi Oman melaporkan sejumlah drone menyerang beberapa lokasi di Provinsi Musandam yang berada di pintu masuk Selat Hormuz.
IRGC mengklaim telah menyerang sebuah lokasi radar milik AS di Kuwait serta menghancurkan pusat komando dan hanggar drone di pangkalan militer AS di Yordania. Namun, otoritas Yordania menyatakan tiga rudal Iran memang jatuh di wilayahnya, tetapi tidak menimbulkan korban jiwa.
Konflik yang terus meningkat ini turut berdampak pada lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz, jalur strategis yang sebelum perang dilalui sekitar 20 persen ekspor energi dunia. Penutupan jalur tersebut telah mendorong harga minyak dan gas dunia ke level tertinggi dalam beberapa tahun terakhir.
Sebelumnya, Teheran sempat menyetujui pembukaan kembali jalur pelayaran setelah penandatanganan nota kesepahaman dengan Washington pada pertengahan Juni. Namun, Iran tetap mengharuskan kapal melintasi rute yang telah ditentukan pemerintahnya. Kapal yang menggunakan jalur lain, terutama yang lebih dekat ke pesisir Oman, dilaporkan menjadi sasaran serangan.
Presiden AS Donald Trump memerintahkan serangan terhadap Iran setelah adanya serangan terhadap kapal-kapal di kawasan tersebut. Pekan lalu, Trump sempat menyatakan kesepakatan dengan Iran telah berakhir, meski kemudian mengaku menyetujui permintaan Teheran untuk melanjutkan perundingan.
Di tengah meningkatnya ketegangan, pejabat Oman dan Iran menyatakan pembicaraan teknis maupun politik mengenai navigasi di Selat Hormuz akan tetap dilanjutkan. Namun, Teheran belum memberikan komitmen untuk membuka jalur pelayaran tanpa pembatasan.
.png)
5 hours ago
4














































