REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Senin pagi di Banjarbaru, Kalimantan Selatan, matahari bersinar lembut menyinari halaman Sekolah Rakyat Terpadu 9. Suara riuh rendah anak-anak berseragam rapi bercampur dengan harapan baru. Mereka bukan sedang menyambut hari biasa, melainkan menanti kedatangan seorang tamu istimewa: Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto.
Kunjungan ini bukan sekadar agenda seremonial. Di sela peresmian 166 Sekolah Rakyat yang tersebar di seluruh Indonesia, Presiden memilih untuk menyelami langsung denyut nadi program andalannya: Makan Bergizi Gratis (MBG) dan pendidikan bagi anak-anak dari keluarga prasejahtera.
Melihat Langsung Senyum di Meja Makan
Memasuki aula besar sekolah, Presiden disambut pemandangan yang menghangatkan hati. Puluhan siswa duduk rapi di meja-meja panjang, berhadap-hadapan. Di hadapan setiap anak, tersaji sebuah nampan berisi makanan lengkap dengan lauk bergizi, segelas susu kemasan, dan air mineral. Inilah wajah konkret dari program MBG yang kini bukan lagi sekadar wacana.
Dengan langkah tenang, Presiden berkeliling. Matanya menyapu setiap meja, menatap wajah-wajah mungil yang mulai menyantap makanan dengan lahap. Sesekali, ia berhenti, menyapa, dan bertanya. Suasana cair dan hangat. Seorang anak perempuan dengan dua kuncir rambut tersenyum malu ketika Presiden membungkuk dan berbicara lembut kepadanya. Momen sederhana itu menangkap esensi program ini: bukan sekadar pemenuhan gizi, tetapi perhatian dan pengakuan bahwa masa depan mereka penting.
Lebih dari Sekadar Gedung
Usai meninjau MBG, Presiden berbincang serius dengan Menteri Sosial, Saifullah Yusuf. Percakapan itu menyiratkan bahwa program ini dipantau ketat, karena ia adalah ujung tombak strategi yang lebih besar.
Sekolah Rakyat sendiri adalah gagasan Presiden Prabowo untuk menjawab kesenjangan yang dalam. Ini adalah ruang kelas bagi anak-anak dari keluarga miskin dan miskin ekstrem yang kerap terlempar dari sistem pendidikan formal. Sebelum menyaksikan pertunjukan seni dan senam siswa, Presiden meninjau ruang kelas dan fasilitas sekolah. Ia melihat langsung bagaimana teknologi digital diintegrasikan untuk mengejar ketertinggalan pembelajaran.
Kunjungan itu pun berakhir dengan kesan personal. Presiden menyempatkan diri menandatangani buku dan berfoto bersama siswa serta orang tua yang hadir. Dikelilingi oleh para menteri, Panglima TNI, Kapolri, dan pejabat tinggi negara, momen ini seperti simbol komitmen kolektif pemerintah. Mereka semua hadir bukan hanya sebagai protokol, tetapi sebagai bagian dari sebuah misi nasional.
Menuju 500 Titik Cahaya
Peluncuran Sekolah Rakyat pada 12 Januari 2026 ini adalah penanda dimulainya perjalanan panjang. Dari 166 titik rintisan yang tersebar dari Sumatera hingga Papua, lebih dari 15.000 siswa sudah mulai belajar. Angka itu ditargetkan akan membesar seiring dengan dibukanya 500 titik Sekolah Rakyat pada 2029.
Di Banjarbaru hari itu, di balik hidangan bergizi yang dinikmati anak-anak, terselip sebuah cerita yang lebih besar. Ini adalah cerita tentang upaya memutus mata rantai kemiskinan dengan dua senjata utama: pendidikan berkualitas dan kecukupan gizi. Setiap suap nasi yang disantap, setiap pelajaran yang diterima di ruang kelas Sekolah Rakyat, adalah sebuah investasi. Bukan hanya untuk masa depan anak-anak itu sendiri, tetapi untuk masa depan Indonesia yang lebih seimbang dan berkeadilan.
Presiden mungkin telah meninggalkan Banjarbaru, namun semangat yang ditinggalkannya terus hidup. Hidup dalam semangat belajar puluhan anak di aula itu, dan dalam harapan baru yang kini menyala di 166 titik lainnya di seantero Nusantara.
sumber : Antara
.png)
2 hours ago
1















































