REPUBLIKA.CO.ID, ABU DHABI — Investasi energi bersih global terus melesat dan diperkirakan menembus 2,2 triliun dolar AS pada 2025, melampaui belanja energi fosil hingga dua kali lipat. Lonjakan ini menegaskan percepatan transisi energi dunia di tengah tekanan krisis iklim.
Pernyataan itu disampaikan Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa Antonio Guterres dalam Sidang Majelis Umum Ke-16 International Renewable Energy Agency (IRENA) di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab, Ahad (11/1/2026).
Guterres mengatakan nilai investasi tersebut mencerminkan penguatan komitmen global menekan emisi gas rumah kaca. Ia menilai transisi energi kian menguat seiring turunnya biaya teknologi dan meningkatnya kepercayaan investor.
Ia mengingatkan konferensi iklim COP30 di Belém telah mengakui dunia akan mengalami overshoot sementara di atas batas kenaikan suhu 1,5 derajat Celsius.
“Tugas kita jelas, yaitu membuat overshoot itu sekecil dan sesingkat mungkin,” kata Guterres.
Menurut dia, pemangkasan emisi harus dilakukan lebih cepat dan lebih dalam di semua sektor, termasuk dengan mengurangi bahan bakar fosil dan mempercepat energi terbarukan.
“Kabar baiknya, dunia tidak pernah berada dalam posisi sebaik sekarang untuk mewujudkannya,” ujarnya.
Guterres menegaskan teknologi energi terbarukan, khususnya surya dan angin, terus mencetak rekor. Transisi menuju energi bersih, menurutnya, kini bersifat tak terhentikan dan tidak dapat dibalikkan. Namun, percepatan investasi pembangkit belum diimbangi kesiapan infrastruktur pendukung.
Pada 2024, dunia mengalokasikan sekitar 1 triliun dolar AS untuk pembangkit energi bersih, tetapi investasi jaringan listrik masih kurang dari separuhnya. Hambatan yang tersisa mencakup perizinan yang lambat, keterbatasan kapasitas jaringan, dan tekanan rantai pasok.
Negara berkembang, terutama di Afrika, juga dinilai masih kesulitan mengakses pembiayaan terjangkau meski memiliki potensi besar.
Untuk mengatasi tantangan itu, Guterres mendorong investasi besar pada jaringan listrik modern dan fleksibel, penguatan interkoneksi regional, serta pengembangan penyimpanan energi seperti baterai. Ia juga menekankan perluasan infrastruktur pengisian kendaraan listrik untuk mendukung elektrifikasi transportasi.
Selain itu, ia menyerukan reformasi kebijakan dan regulasi agar pasar energi lebih efisien, transparan, dan memberi kepastian bagi investor.
sumber : Antara
.png)
9 hours ago
4














































