Rupiah Melemah, Harga Tahu dan Tempe Diprediksi Naik hingga 2 Persen

1 week ago 19

Pekerja memasukkan kedelai ke dalam mesin penghalus di salah satu pabrik tahu dan tempe rumahan, Kecamatan Konda, Kabupaten Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara, Sabtu (26/4/2025). Kenaikan harga kedelai impor sejak tiga bulan terakhir dari Rp9 ribu menjadi Rp11 ribu membuat produsen tahu dan tempe di wilayah itu harus mengurangi ukuran tahu dan tempe untuk tetap mendapatkan keuntungan tanpa harus menaikkan harga jual.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pengamat pertanian Center of Reform on Economics (CORE) Eliza Mardian menilai depresiasi rupiah berpotensi mendorong kenaikan harga produk olahan kedelai hingga sekitar dua persen. Tekanan tersebut muncul di tengah tingginya ketergantungan Indonesia terhadap impor kedelai yang mencapai hampir 90 persen kebutuhan nasional.

Pelemahan nilai tukar rupiah membuat biaya impor kedelai meningkat meski harga global relatif stabil. Kondisi itu memicu kenaikan biaya bahan baku di dalam negeri dan menimbulkan tekanan pada rantai pasok pangan berbasis kedelai. “Kita ini kan hampir 90 persen kedelainya itu dipenuhi dari impor. Depresiasi rupiah tentu menyebabkan peningkatan harga-harga barang impor termasuk kedelai,” kata Eliza kepada Republika.co.id, Senin (18/5/2026).

Nilai tukar rupiah pada Senin pagi tercatat berada di level Rp 17.658 per dolar AS. Posisi tersebut melemah sekitar 61 poin atau 0,35 persen dibandingkan penutupan sebelumnya di level Rp 17.597 per dolar AS.

Analis mata uang Doo Financial Futures Lukman Leong menjelaskan pelemahan rupiah dipicu meningkatnya sentimen risk off global. Pasar merespons negatif hasil pertemuan Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping yang dinilai belum memberikan titik terang terhadap konflik geopolitik global.

Menurut Eliza, pelemahan nilai tukar rupiah memunculkan fenomena imported inflation atau inflasi impor. Tekanan inflasi muncul akibat kenaikan harga barang impor saat mata uang domestik terdepresiasi. “Nah ketika nilai tukar rupiah melemah, biaya impor kedelai otomatis meningkat meskipun harga global relatif stabil. Kondisi ini akan memicu kenaikan biaya bahan baku di dalam negeri,” ujarnya.

Eliza menjelaskan dampak kenaikan harga kedelai tidak berhenti pada bahan baku impor. Komoditas tersebut menjadi bahan utama berbagai produk konsumsi masyarakat seperti tahu, tempe, susu kedelai, hingga pakan ternak berbasis bungkil kedelai.

Read Entire Article
IDX | INEWS | SINDO | Okezone |