Danantara Tetapkan Mitra PSEL Tahap Kedua, Raksasa Global Ikut Bersaing

1 hour ago 3

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- PT Danantara Investment Management (DIM) bersama anak usahanya, PT Daya Energi Bersih Nusantara (Denera), resmi menetapkan mitra terpilih untuk pengoperasian proyek Pengolahan Sampah Menjadi Energi Listrik (PSEL) Tahap Kedua di Indonesia. DIM mengatakan pengumuman ini menjadi tonggak krusial dalam akselerasi infrastruktur hijau nasional yang melibatkan konglomerasi energi global dan korporasi domestik.

Langkah strategis ini mencakup pembangunan fasilitas pengolahan sampah modern di delapan wilayah pengembangan strategis yang mencakup total 20 kabupaten dan kota di seluruh Indonesia. Kendati demikian, otoritas investasi menegaskan bahwa penetapan para mitra pemenang ini masih bersifat bersyarat (conditional) dan sepenuhnya tunduk pada kepatuhan serta pemenuhan seluruh regulasi pengadaan yang berlaku di Tanah Air.

Dalam pengumuman resminya, DIM mengatakan konsorsium nasional dan internasional bersaing ketat untuk mengamankan hak pengelolaan di delapan wilayah tersebut. Untuk wilayah Medan Raya, hak pengelolaan bersyarat jatuh kepada SUEZ-IAN Consortium (SUEZ Insan Asia).

Di wilayah penopang Ibu Kota, yakni Kabupaten Bekasi, proses seleksi dimenangkan oleh Consortium Everbright Cemerlang Energy (Everbright Harmoni). Sementara itu, untuk wilayah Lampung Raya, Bumi Biru Indonesia (SUS Indoplas) berhasil keluar sebagai mitra terpilih.

Selanjutnya, wilayah Serang Raya akan dikelola oleh Masa Depan Energi Indonesia (Chandra Waste Energy BGE). Raksasa utilitas lingkungan asal Eropa, Veolia Environmental Services Asia Pte. Ltd. (Veolia), berhasil mengamankan hak pengelolaan untuk proyek di wilayah Semarang Raya.

Di Jawa Timur, Consortium Mentari Citra Lestari (Bakrie Power SUS) ditetapkan sebagai pemenang untuk wilayah Surabaya Raya. Terakhir, proyek di wilayah Bogor Raya 2 dimenangkan oleh MPM-CEVIA Consortium (Mega Power CEVIA), sedangkan Yogyakarta Raya akan digarap oleh Cakra Energi Lestari Consortium yang mengombinasikan kekuatan Pertamina NRE dan Tianjin CITICC.

Tingginya partisipasi korporasi multinasional dalam tender proyek PSEL Tahap Kedua ini secara langsung merefleksikan daya tarik investasi Indonesia di sektor infrastruktur lingkungan global. Kehadiran para pemain besar yang telah mendominasi industri pengelolaan limbah dan teknologi waste-to-energy (WtE) selama puluhan tahun menegaskan optimisme pasar internasional terhadap kepastian hukum dan nilai komersial proyek-proyek keberlanjutan di Indonesia.

Berdasarkan data panitia seleksi, kompetisi berlangsung sangat ketat dengan melibatkan 85 perusahaan yang masuk dalam Daftar Penyedia Terseleksi (DPT). Dari jumlah tersebut, panitia menerima 68 aplikasi formal untuk memperebutkan delapan lokasi proyek yang ditawarkan.

Dalam pernyataannya, DIM mengatakan untuk memitigasi risiko kegagalan proyek, proses evaluasi tidak hanya menetapkan satu pemenang utama di setiap lokasi, melainkan juga menunjuk Mitra Cadangan. Mekanisme ini berfungsi sebagai jaminan kontinuitas proyek apabila Mitra Terpilih gagal memenuhi tenggat waktu atau klausul persyaratan baku yang telah disepakati.

Para pemenang utama pada tahap awal ini akan menerima surat penetapan bersyarat atau Conditional Letter of Award (CLoA). Setelah menerima CLoA, status mereka sebagai pengembang resmi baru akan disahkan secara penuh apabila seluruh parameter administratif, teknis, dan finansial dipenuhi. Jika mereka gagal, hak eksklusif tersebut akan dialihkan secara otomatis kepada Mitra Cadangan yang telah ditunjuk.

Chief Executive Officer PT Danantara Investment Management (DIM) Pandu Sjahrir mengatakan ketertarikan besar dari para pemimpin industri pengelolaan sampah global membuktikan posisi strategis Indonesia yang semakin kuat sebagai destinasi investasi hijau utama di Asia Tenggara. Pandu menilai momentum ini sebagai pintu gerbang penting bagi transformasi industri domestik melalui transfer teknologi tingkat tinggi dan penguatan kapabilitas tenaga kerja lokal.

"Keterlibatan perusahaan-perusahaan waste-to-energy terkemuka dunia menunjukkan bahwa Indonesia semakin dipercaya sebagai tujuan investasi global. Kami melihat ini bukan sekadar pembangunan fisik, melainkan peluang untuk mempercepat transfer teknologi modern, membangun kapasitas nasional yang mandiri, serta memperkuat seluruh ekosistem industri pengelolaan sampah dari hulu ke hilir di Indonesia," kata Pandu dalam keterangan tertulisnya, Senin (13/7/2026).

Menariknya, meskipun dikepung oleh raksasa-raksasa energi global, pelaku usaha dalam negeri menunjukkan daya saing yang signifikan dalam proses seleksi ini. Data hasil evaluasi menunjukkan bahwa empat dari delapan konsorsium yang ditetapkan sebagai Mitra Terpilih merupakan kelompok usaha yang dipimpin langsung oleh korporasi nasional. Sementara itu, empat lokasi lainnya terbagi rata, yakni dua dimenangkan oleh konsorsium yang dipimpin korporasi asal Prancis dan dua lainnya dipimpin korporasi asal China.

Pencapaian ini menempatkan Indonesia sebagai pemimpin konsorsium (consortium lead) terbanyak dalam pengadaan tahap ini. Strategi yang diterapkan para pengusaha nasional juga dinilai cerdas karena tetap menggandeng mitra teknologi internasional kelas dunia untuk memastikan eksekusi proyek berjalan cepat, aman, dan efisien, sekaligus mendukung proses alih teknologi ke dalam negeri.

Read Entire Article
IDX | INEWS | SINDO | Okezone |