Rupiah dan IHSG Lesu Jelang Pengumuman MSCI

3 hours ago 6

Warga mengambil gambar pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Jumat (5/6/2026). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup merosot 245 poin atau 4,20 persen ke level 5.595, hal tersebut memperpanjang tren pelemahan yang terjadi dalam beberapa hari terakhir.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS mengalami pelemahan, jelang pengumuman Morgan Stanley Capital International (MSCI). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) juga terpantau turut memerah. 

Mengutip Bloomberg, rupiah dibuka melemah sebesar 16 poin menuju level Rp 17.866 per dolar AS pada perdagangan Selasa (23/6/2026). Sedangkan, IHSG melemah 20,19 poin menuju posisi 6.096,5. Pada sekira pukul 14.38 WIB, rupiah melemah 25 poin atau 0,14 persen menuju level Rp 17.868 per dolar AS, sementara itu IHSG melemah sekitar 66 poin atau 1,09 persen ke posisi 6.051. 

“Rupiah hari ini kembali melemah. Pelemahan mata uang rupiah disebabkan oleh masalah internal yang kita tahu bahwa MSCI akan kembali mengeluarkan statement tentang masalah pasar modal di Indonesia,” kata Pengamat Mata Uang dan Komoditas Ibrahim Assuaibi dalam keterangannya kepada wartawan, Selasa (23/6/2026). 

Diketahui, pengumuman MSCI Classification dijadwalkan pada Rabu, 24 Juni 2026 waktu Indonesia (Selasa, 23 Juni waktu AS). Pelaku pasar menunggu keputusan mengenai nasib pasar Indonesia, akan tetap berstatus emerging market, atau justru turun menjadi frontier market

Ibrahim menerangkan, pelemahan Mata Uang Garuda juga dipicu oleh persoalan internal berupa polemik yang meliputi sejumlah program-program prioritas pemerintah, seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP). 

“Masalah MBG dan Koperasi Merah Putih masih menjadi alasan rupiah terus mengalami pelemahan. Dan kita harus tahu juga bahwa masalah eksternal masih cukup bagus, harga minyak mentah pun juga mengalami penurunan, tetapi indikasi ini pun juga membuat rupiah mengalami pelemahan yang cukup signifikan,” terangnya. 

Ia menilai, sentimen tersebut bisa terus menekan pergerakan rupiah. Bahkan ia memprediksi rupiah bisa kembali menembus ke level terendahnya sepenjang sejarah, yakni Rp 18.000-an per dolar AS. 

“Ada kemungkinan besar rupiah akan kembali ke Rp 18.000. Ini mengindikasikan bahwa kekuatan internal ini masih belum kuat walaupun pemerintah mengatakan bahwa fundamental ekonomi Indonesia masih cukup bagus. Tetapi harus dilihat bahwa kondisi inilah yang membuat rupiah kembali mengalami pelemahan,” jelasnya. 

Read Entire Article
IDX | INEWS | SINDO | Okezone |