RMIT Dorong Industri Game Naik Kelas, Sebut Pasar Potensial 153 Juta Pemain

5 hours ago 2

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA— Indonesia memiliki sekitar 153 juta pemain game dan nilai pasar yang diperkirakan mencapai 1,9 miliar dolar AS.

Skala tersebut membuka peluang bagi Indonesia untuk tidak hanya menjadi pasar game utama, tetapi juga berkembang sebagai pencipta game orisinal berdaya saing global.

Pada 2019–2025 sendiri, Indonesia berhasil menghasilkan 203 judul game independen, setara dengan sekitar sepertiga dari total produksi game independen di Asia Tenggara.

Namun, besarnya pasar dan kuatnya talenta kreatif Indonesia belum sepenuhnya mendorong lahirnya lebih banyak studio lokal yang mampu bersaing ditingkat global.

RMIT menyoroti pentingnya menghubungkan besarnya pasar game Indonesia dengan talenta siap industri, kemampuan komersial, dan jaringan internasional.

Pemerintah Negara Bagian Victoria, Australia, mempertemukan RMIT dengan sejumlah pemangku kepentingan industri game Indonesia, termasuk Agate, salah satu pengembang game terkemuka di Indonesia, serta Asosiasi Game Indonesia (AGI).

Forum tersebut membahas langkah-langkah untuk memperkuat kapasitas studio lokal dan mendorong lahirnya lebih banyak kekayaan intelektual Indonesia.

Sejumlah tantangan masih membayangi pertumbuhan industri game nasional, mulai dari keterbatasan talenta tingkat lanjut, akses pendanaan, kemampuan komersial dan kepemimpinan bisnis, hingga akses ke pasar internasional.

Para peserta menilai kolaborasi yang lebih erat antara pemerintah, industri, institusi pendidikan, dan investor menjadi kunci untuk mempercepat perkembangan ekosistem game Indonesia.

“Indonesia telah memiliki pasar yang besar, talenta kreatif yang kuat, serta ekosistem pengembangan game yang terus bertumbuh,” kata Direktur RMIT Indonesia, Tantia Dian Permata Indah, dalam keterangannya kepada media di Jakarta, Jumat (31/7/2026.

Dia mengatkan, langkah berikutnya adalah memastikan para pengembang dan pendiri studio tidak hanya memiliki keahlian teknis, tetapi juga kemampuan bisnis dan wawasan internasional untuk membangun perusahaan yang berkelanjutan serta membawa kekayaan intelektual Indonesia kepada audiens global.

"Pengembangan game kini membutuhkan kombinasi kompetensi yang semakin luas," kata dia. 

Selain programmer dan desainer, tutur dia, studio yang sedang berkembang juga membutuhkan produser, tenaga pemasaran hingga pemimpin yang mampu memahami audiens, mengelola proses produksi yang kompleks, menarik investor, dan membangun kemitraan internasional.

Industri ini juga menghadapi kesenjangan antara permintaan domestik dan produksi lokal.

Game mobile mendominasi pasar Indonesia, sementara banyak studio lokal lebih berfokus pada game premium untuk PC dan konsol yang menyasar pasar luar negeri.

Kondisi ini membuka peluang untuk memperkuat pemahaman pasar, memperluas strategi produk, dan mengembangkan konten yang relevan bagi konsumen Indonesia.

RMIT sendiri telah mendukung pengembangan kemampuan digital dan kreatif di Indonesia melalui kolaborasi dengan pemerintah dan industri. Pada 2024 dan 2025, RMIT menjalin kemitraan dengan EKRAF dan Apple untuk menyelenggarakan pelatihan desain game digital.

Read Entire Article
IDX | INEWS | SINDO | Okezone |