Oleh: Sofwan Manaf & Muhammad Irfanudin Kurniawan, Dosen Universitas Darunnajah (UDN) Jakarta
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kota dengan segala hiruk-pikuknya. Mal-mal megah berdiri tegak, gedung-gedung pencakar langit saling bersaing tinggi, dan arus modernisasi mengalir deras tanpa henti. Di tengah lanskap urban yang serba cepat ini, siapa sangka sebuah lembaga pendidikan Islam bisa bertahan, bahkan berkembang, selama lebih dari delapan dekade?
Pondok Pesantren Darunnajah Jakarta membuktikannya. Cikal bakalnya dimulai pada 1942, ketika KH Abdul Manaf Mukhayyar mendirikan Madrasah Al-Islamiyah di Petunduhan, Palmerah. Kini, memasuki usia ke-85 tahun, dan akan merayakan milad ke-87 pada Mei 2026. Darunnajah telah menjelma menjadi salah satu pesantren bersejarah dengan lebih dari 23 cabang dan 68 satuan pendidikan yang tersebar di seluruh Indonesia.
Bagaimana sebuah pesantren yang lahir di tengah ibu kota bisa tetap konsisten mempertahankan identitasnya, sementara di sekelilingnya perubahan terjadi begitu cepat? Jawabannya terletak pada satu konsep yang mereka sebut pilar Darunnajah.
Perjalanan Panjang Melintasi Zaman
Nama Darunnajah sendiri menyimpan harapan mulia sang pendiri. “Dar” berarti kampung, “An-Najah” berarti sukses. KH Abdul Manaf Mukhayyar menghendaki agar setiap santri yang menimba ilmu di sini meraih kesuksesan, bukan hanya di dunia, tetapi juga di akhirat kelak.
Perjalanan Darunnajah tidak selalu mulus. Pada 1959, tanah dan madrasah di Palmerah harus digusur untuk perluasan kompleks olahraga Asian Games, yang kini dikenal sebagai Gelora Bung Karno. Namun KH Abdul Manaf tidak patah arang. Beliau mengusahakan tanah wakaf di Ulujami dan mendirikan Yayasan Kesejahteraan Masyarakat Islam (YKMI) pada 1960.
Baru pada 1 April 1974, Pesantren Darunnajah resmi berdiri di Ulujami dengan modal sederhana yaitu tiga orang santri dan masjid berukuran 11x11 meter. Kini, lebih dari lima dekade kemudian, Darunnajah telah berkembang menjadi lembaga pendidikan terpadu dari PAUD hingga Universitas Darunnajah (UDN) Jakarta yang resmi berdiri pada 2022.
Tantangan Pesantren di Tengah Kota
Mengelola pesantren di wilayah perkotaan memiliki tantangan yang berbeda dengan pesantren di pedesaan. Godaan dunia luar begitu dekat. Santri hanya berjarak beberapa kilometer dari kawasan strategis nasional: 9 KM ke Sudirman Central Business District (SCBD), Gelora Bung Karno (GBK), dan Pusat Pemerintahan Jakarta dan nasional. Orang tua pun memiliki ekspektasi ganda, mereka ingin anaknya saleh sekaligus sukses secara akademik dan karier.
Belum lagi tekanan ekonomi. Harga tanah di Jakarta terus melambung. Banyak lembaga pendidikan Islam di perkotaan yang akhirnya menyerah, menjual aset mereka karena tidak mampu bertahan. Sebagian lagi kehilangan jati diri, menjadi sekolah umum berkedok Islam demi menarik lebih banyak siswa.
.png)
2 hours ago
2















































